Menjadi liasson officer untuk segenap delegasi APA tentulah tugas yang gampang-gampang susah. Untuk itu dikerahkanlah sekitar 30-an mahasiswa akademi pariwisata NHI Bandung. Mereka menjadi pendamping para delegasi 26 negara di setiap kesempatan.
"Kita harus memastikan mereka tidak terlambat untuk setiap agenda APA. Kita telepon pagi-pagi supaya bangun," kata Iqbal (20) dalam perbincangan di Hotel Savoy Homann, Bandung, Kamis (10/12/2009).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Korea Utara maunya serius melulu. Datang ke sini benar-benar untuk ikut sidang APA. Teman saya yang mendampingi anggota DPR Kamboja malah diminta menemani jalan-jalan keliling Bandung. Belanja gitu deh, pulang jam 1 malam. Vietnam juga suka jalan-jalan," kata Iqbal.
Anggota DPR Korut juga sangat sensitif soal keamanan. Mereka meragukan keamanan Hotel Preanger tempat mereka menginap walaupun hanya di seberang Hotel Savoy Homann.
"Mereka sampai minta personal security untuk Ketua DPR-nya. Tapi saya bilang setiap hotel sudah ditambah pengamanan dari polisi," ujarnya.
Lain lagi dengan Korea Selatan, Maharani (19) yang menjadi pendampingnya mengatakan anggota DPR Korsel lebih rileks dari Korut. Namun mereka cukup cerewet, misalnya saja mengenai agenda sidang yang berubah. Pendamping jadi ikut diomeli.
"Sekretarisnya panikan. Saya jadi kebawa panik cari-cari jadwal sidang yang paling terbaru. Ribet deh," kata Maharani.
Menurut dia, rekannya yang mendampingi delegasi negara-negara Arab malah bekerja lebih santai. Mereka lebih cuek terhadap agenda persidangan APA. Bagi Maharani, Iqbal dan teman-temannya acara semacam ini adalah pengalaman yang sangat penting. Mereka tidak memikirkan berapa nanti mereka akan diberi honor.
"Dosen saya juga bilang jangan pikirkan honornya dulu, tapi pengalamannya," pungkas Iqbal.
(fay/nrl)











































