"Sesuai dengan tatib yang ada, apakah kita setuju menggunakan asas proporsionalitas. Dengan demikian pansus dipimpin empat fraksi dengan kursi terbesar," kata wakil Ketua DPR Priyo Budi Santoso saat memimpin rapat pemilihan ketua pansus angket skandal Century di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Jumat (4/12/2009).
Dengan keputusan itu, pimpinan pansus angket skandal century resmi dipimpin oleh FPD, FPD, FPDIP dan FPKS. Keputusan ini memang terasa berat bagi parpol kecil seperti Hanura dan Gerindra. Tetapi mekanisme proporsional telah menjadi acuan yang tidak bisa di pisahkan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
panitia angket. Hanura merasa dipersulit dengan asas proporsionalitas yang dipakai.
"Kami belum ada di sini saat itu, tapi kenapa kami harus mengikuti aturan itu," keluh anggota panitia angket dari Fraksi Hanura, Akbar Faisal.
Akbar mengaku pesimis fraksinya dapat memimpin pansus lain di DPR. Hanura yang minim kursi di DPR sulit beraksi kursi pimpinan. "Di Komisi dan kelengkapan saja kami hanya dapat dua pimpinan," keluh Akbar lagi. "Sampai bongkok pun Hanura tidak akan jadi pimpinan," umpatnya.
Ketua Fraksi Partai Demokrat Anas Urbaningrum nyeletuk, meledek Akbar. "Nanti 2014," kata Anas disambut batuk kecil Akbar. Pimpinan sidang, Wakil Ketua DPR pun ikut nimbrung. Namun Priyo tidak meledek, tapi menenangkan.
"Doanya Pak Anas itu manjur loh, mudah-mudahan tahun 2014 Hanura geser Demokrat," kata Priyo sembari tersenyum.
Rapat penetapan pimpinan pansus angket Century yang sebelumnya digelar tertutup akhirnya dinyatakan terbuka. Pimpinan rapat pansus Priyo Budi santoso menyatakan rapat ini terbuka setelah mendapat aspirasi dari peserta sidang.
"Atas permintaan arus bawah, rapat dinyatakan terbuka untuk umum," pungkas Priyo.
(mpr/gah)











































