Sekitar 50-an pengungsi yang tergabung dalam Koalisi Pengungsi Maluku datang dari berbagai lokasi di Ambon melakukan aksinya di ruas Jl. Pattimura atau sekitar 500 meter dari kawasan Taman Pelita, Lokasi dimana GPD diresmikan Presiden SBY, Rabu (25/11/2009).
Sambil membentangkan spanduk dan poster, para pengungsi yang sebagian besar adalah para ibu-ibu ini, menuntut penyelesaian hak-hak mereka sebagaimana yang sudah diterima pengungsi lain di Maluku. "Kami sudah menderita hampir tujuh tahun. Tapi pemerintah tidak serius menangani nasib kami," teriak salah satu pengungsi.
Menariknya, sebuah spanduk yang dibentangkan bertuliskan, Gong Perdamaian Dunia, adalah Gong Kematian Pengungsi di Maluku.
Menurut koalisi pengungsi, cara penanganan pengungsi di Maluku telah menimbulkan pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM). "Pemda Maluku sudah mengabaikan hak-hak pengungsi yang telah menderita fisik maupun pshikis sejak tahun 1999 lalu," ujar koordinator koalisi pengungsi, Pieter Pattiwaelapia, kepada detikcom, disela-sela demo.
Para pengungsi juga meminta semua pihak termasuk para duta negara sahabat yang menghadiri perayaan perdamaian dunia, untuk memberikan perhatian dan keberpihaknnya terhadap penyelesaian persoalan pengungsi di Maluku.
Aksi pengungsi ini juga mendapat kawalan ketat TNI-Polri bersenjata lengkap.
Demo FPPI
Di tempat lain, Front Pemuda pejuang Indonesia (FPPI) Kota Ambon, juga melakukan aksi demo. Mereka beraksi di perempatan jalan Ay-Patty, AM. Sangadji, Sultan Babbulah dan Yos Sudarso. Bahkan aksi mereka sempat memacetkan arus lalu lintas.
Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam FPPI ini, memprotes pelaksanaan Gong Perdamaian Dunia di Ambon. Menurut para pendemo dalam selebaran yang dibagikan ke wartawan, kegiatan GPD, yang diresmikan Preiden SBY, hanya rekayasa kapitalisme global. Para pendemo menolak Gong Perdamaian di Maluku. Bahkan mereka meminta aparat keamanan mengusut tuntas pelaku kerusuhan Ambon 1999, menjunjung tinggi butir-butir kesepakatan Malino II dan menolak segala bentuk kapiltalisme asing ke Maluku.
Aksi para mahasiswa ini menapat kawalan ketat ratusan TNI-Polri. Bahkan sejumlah mobil barakuda juga disiapkan di ruas Jl. Ay. Patty.
(han/djo)











































