"Ini insya Allah. Kami menargetkan pada tahun 2010 pemondokan paling jauh 4 KM dari Masjidil Haram," kata Menag pada acara Chief Editor Gathering di Libra Ballroom, The Executive Club, Hotel Sultan, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Kamis (18/11/2009) malam. Acara juga dihadiri oleh sejumlah pejabat Depag, antara lain Dirjen Bimas Islam Prof Nasaruddin Umar.
Menag akan berusaha merealisasikan target itu. Bila hal itu tercapai, kata Menag, maka transportasi yang menjadi masalah krusial setelah pemondokan juga bisa teratasi. "Kalau pemondokan haji terjauh 4 KM, maka transportasi sudah tidak perlu lagi. Apalagi mendekati musim puncak haji, kawasan 4 KM sebelum Masjidil Haram sudah macet. Jadi, jamaah lebih cepat jalan kaki menuju Masjidil Haram," ujar dia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tapi transportasi ini juga bukan tidak ada masalah. Selain sopirnya juga bukan orang asli Makkah, semrawutnya lalu lintas, dan juga sering diubah-ubahnya jalur lalu lintas, soal transportasi ini juga terganggu," jelas Menag.
Mengenai pemondokan, Menag juga bercerita sempat ada masalah. Padahal, sebelumnya pemerintah telah menyewa empat ratus lebih gedung untuk 208 ribu lebih jamaah haji asal Indonesia. "Masalah ini gara-gara ada aturan baru dari pemerintah Arab Saudi yang mengharuskan gedung-gedung yang disewa harus memiliki tangga darurat. Setelah disisir, kemungkinan ada sekitar 19 ribu jamaah yang tidak kebagian pemondokan. Kemudian kita sisir lagi, tinggal 2.000 yang tidak kebagian pemondokan. Dan sekarang, kita pastikan semua jamaah akan mendapat pemondokan," kata dia.
Baju Batik dan Kamar Barokah
Menag juga menyampaikan bahwa pemerintah juga memiliki rencana untuk menetapkan seragam jamaah haji dengan seragam batik. Ini direalisasikan atas masukan banyak pihak agar jamaah haji memiliki seragam, sehingga mudah dikenali.
"Soal seragam memang sudah akan kami lakukan tahun depan. Rencananya seragamnya batik, sesuai daerah asal masing-masing," ujar dia.
Sementara tentang usulan agar ada 'kamar barokah', ruangan khusus untuk melakukan hubungan biologis antara suami-istri yang menjalankan ibadah haji, Menag akan memikirkannya. "Saya kira itu usulan yang baik, tapi saya belum bisa berkomentar sekarang," ujar Menag. Usulan 'kamar barokah' ini mengadopsi atas apa yang dilakukan oleh sejumlah negara untuk mengkomodir kebutuhan psikologis dan biologis bagi jamaah haji yang berada di Makkah selama sebulan.
(asy/gah)










































