Pada Jumat (16/10/2009), rumah pertama yang berhasil dibangun dengan memanfaatkan bahan baku bekas reruntuhan itu, sudah ditempati. Pengerjaannya melibatkan satu kelompok warga yang dibimbing tukang berpengalaman.
“Alhamdulillah, rumah den lah tagak baliak (Alhamdulillah rumah saya sudah berdiri kembali),” ujar Mak Uniang (50), yakni orang pertama yang rumahnya selesai dibangun.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Direktur Al-Azhar Peduli Ummat, Anwar Sani menyatakan, saat ini di Padang Pariaman, Rumah Bangkik Basamo tipe 30 mulai dikerjakan di Korong Tanjung Medan, Korong Padang Toboh, Kec. Ulakan Tapakis dan Korong Toboh Olo, Korong Toboh Baru, Kec. Sintuk Toboh Gadang.
“Proses pengerjaan rumah, melalui pendampingan. Satu kelompok masyarakat yang terdiri dari sepuluh keluarga, didampingi dua tukang dari MMB. Konstruksi rumah ini, memanfaatkan kayu dan atap yang masih bisa dipakai. Sementara, dinding gedhek bambu didatangkan dari Jawa. Semen, pasir, kekurangan atap seng dan paku kita yang menyiapkan,” kata Anwar Sani.
Pembangunan rumah, melibatkan peran partisipatif masyarakat melalui sistem gotong royong. Menurut Anwar, keterlibatan masyarakat korban gempa dalam pembangunan rumah sangat penting karena mereka akan memiliki kebanggaan tersendiri dari hasil buah kerjanya.
“Pembangunan rumah ini dengan cara pendampingan. Berat, tapi hasilnya cukup efektif dan maksimal. Alhamdulillah, program kami dapat tanggapan positif dari masyarakat, mereka tidak mau meratap dan berpangku tangan”, terang Anwar.
Selain rumah, Al-Azhar Peduli Ummat juga sedang menyiapkan pembangunan Surau Bangkik Basamo. Surau ini akan dikerjakan dalam waktu singkat dengan bahan kayu, atap seng, dinding tembok satu meter, dan dinding gedhek bambu. Luas bangunannya 6 x 8 meter.
Program recovery rumah dan tempat ibadah dari bahan yang ada di lokasi ini, telah teruji sebelumnya. MMB pernah membangun 50 mushola dan masjid, serta 1.000 unit rumah di Klaten dan Yogyakarta pasca gempa.
(rul/ape)











































