Namun itu tidak berlaku bagi Bibit Samad Riyanto. Wakil ketua nonaktif KPK yang pensiun dari kepolisian sebagai inspektur jenderal ini, kediamannya bukan di kompleks perumahan mewah di pusat kota Jakarta, melainkan di pojok gang di kawasan Ciledug, Tangerang, Banten.
Untuk mencapainya dari arah Jakarta, kita butuh kesabaran menghadapi kemacetan luar biasa di daerah Kebayoran Baru hingga Cipulir. Setibanya di Ciledug, memang kita melewati kompleks perumahan. Namun rupanya rumah pria asal Kediri tersebut justru berada di belakang kompleks, bergabung dengan penduduk asli setempat.
"Saya sudah tinggal sejak tahun 1991," kata Bibit saat ditemui detikcom di kediamannya, Rabu (14/10/2009).
Rumah yang didominasi warna cat putih tersebut memiliki halaman yang tidak terlalu luas. Tidak ada pos keamanan atau penjaga yang bertampang sangar di depan rumah. Pintu pagar selalu terbuka untuk menyambut tamu yang datang.
"Kadang kalau malam Minggu penduduk sekitar menggunakan halaman rumah saya untuk latihan keroncong," ungkapnya.
Bibit bercerita, rumah yang kini ditempatinya sempat dipermasalahkan ketika proses pemilihan sebagai pimpinan KPK pada tahun 2007. Ia disebut-sebut membangun rumah tersebut dari sumber yang haram. Namun ia menampiknya dengan santai.
"Saya bangun waktu pakai duit yang jelas. Alasannya sederhana kenapa saya pindah, rumah saya yang lama kebanjiran," ujarnya sambil tertawa lepas.
Kini, rumah tersebut baru saja tertimpa bencana. Lantai keramik di ruang makan dan ruang keluarga tiba-tiba merekah dan hancur tanpa sebab. Walhasil, bapak empat orang anak ini terpaksa memindahkan ruang makannya di kamar salah satu putranya. Merespons kejadian ini, lagi-lagi Bibit menjawab santai.
"Yah, enak juga ruang makan di kamar anak saya ini, adem," terang Bibit diiringi derai tawa.
(mad/ndr)











































