Saat pemilihan suara di Hotel Labersa, Pekanbaru, Riau, Kamis (8/10/2009) dinihari, Ical meraup 296 suara. Dia mengalahkan pesaing utamanya, Surya Paloh, yang hanya mendulang 240 suara. Sementara Hutomo Mandala Putra (Tommy Soeharto) dan Yuddy Chrisnandi tidak mendapatkan suara.
Direktur Pusat Kajian Kebijakan dan Pembangunan Strategis (Puskaptis), Husin Yazid, menilai kemenangan Ical disebabkan beberapa hal. Menurutnya, selain disukai publik dan DPD, Ical yang saat ini menjabat sebagai Menko Kesra ini juga mempunyai kekuatan internal dan eksternal.
"Selama ini Ical dikenal luas sebagai organisator. Dia banyak pegalaman di berbagai organisasi baik dalam maupun luar negeri. Sementara faktor eksternal, Ical mempunyai mesin politik yang mumpuni," ujar Husin dalam rilisnya kepada detikcom, Kamis (8/10/2009).
Husin menjelaskan dalam 2 kali survei yang dilakukan Puskaptis, popularitas Ical memang menempati tertinggi. Dalam survei kedua yang dilakukan pada 7 hingga 15 September 2009 lalu, Ical menempati tempat tertinggi, yakni 54,89 persen sebagai calon ketua umum yang disukai publik di Indonesia.ย
"Dalam munas perolehan suara Ical mencapai 55,4 persen, sementara Surya Paloh hanya 44,6%. Apa yang diperoleh Ical sama dengan hasil survei kami, yakni 54,89 persen. Sedangkan pada survei pertama Ical mendapatkan prosentase 53,05 persen," tukasnya.
Husin membeberkan, kemenangan Ical juga tidak bisa dilepaskan dari keberhasilannya merangkul golongan senior dan muda. "Untuk golongan senior ada nama Akbar Tandjung yang sudah mengakar di lapisan bawah. Sementara di golongan muda terdapat Ketua KNPI Dolly Nasution. Selain itu, Ical sendiri juga memang mempunyai pengalaman organisasi baik di luar Golkar maupun di luarย partai.โ
Di sisi lain, lanjut Husin, kesuksesan Ical juga ikut 'disumbang' oleh Jusuf Kalla (JK).ย Dalam pidato pertanggungjawabannya, JK mengatakan sebaiknya Golkar menjadi partai oposisi dan tidak perlu mengemis jabatan.
"Nah khusus pernyataan JK soal Golkar yang harus menjadi oposisi ternyata malah menguntungkan kubu Ical. Seperti diketahui di antara 250 DPD 1 dan 2 adalah gubernur atau kepala daerah. Bagaimana mungkin gubernur atau kepala daerah berseberangan dengan pemerintah," jelasnya.
Sementara mengenai tidak adanya suara yang diperoleh Tommy Soeharto dan Yuddy Chrisnandi, menurut Husin sejak awal memang sudah diprediksi. Kedua tokoh muda ini memang hanya menguji kepopuleran.
"Setidaknya dengan sekarang maju sebagai kandidat keduanya sudah dikenal pasar. Target keduanya bukan sekarang tapi lima tahun mendatang," tukas Husni.
(djo/anw)










































