Akbar: Saya Kalahkan JK

Ical Menang

Akbar: Saya Kalahkan JK

- detikNews
Kamis, 08 Okt 2009 12:12 WIB
Akbar: Saya Kalahkan JK
Jakarta - Bagi Akbar Tandjung, terpilihnya Aburizal Bakrie (Ical) menjadi Ketum Golkar juga merupakan kemenangan dirinya atas Jusuf Kalla (JK). Sebab meskipun tidak secara terbuka JK cenderung berada di posisi pendukung Surya Paloh.

Kemenangan Akbar atas JK ini tidak hanya kemenangan strategi dan taktik yang dirancang pasca kekalahannya di Munas Golkar di Bali 5 tahun lalu, tetapi juga kemenangan Akbar dalam menempati posisi sebagai Ketua Dewan Pembina Partai Golkar periode mendatang.

"Kelihatannya Pak JK kan memberikan dukungan kepada Pak Surya Paloh. Apalagi dalam pemandangan umum DPD kemarin, ada satu DPD yang terang-terangan mengusulkan Pak JK sebagai Ketua Dewan Penasihat," kata Akbar usai pemilihan Ketum Golkar di Hotel Labersa, Pekanbaru, Riau, Kamis (8/10/2009).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Sementara pemandangan umum yang disampaikan DPD yang mendukung Ical secara terang-terangan, menyebut saya sebagai Ketua Dewan Pembina itu lebih banyak. Ada 9 DPD yang menyebut itu. Jadi saya sekarang menang," imbuh Akbar.

Menurutnya, kemenangan Ical ini akan menjadi pintu masuk bagi konsolidasi kembali kekuatan Golkar sebagaimana pernah dilakukannya saat menjadi nakhoda Golkar pasca reformasi. Karena itu Akbar berharap Ketua Umum terpilih segera melakukan konsolidasi dan rekonsiliasi guna menyatukan kembail Golkar dalam satu bendera.

"Sekarang yang terpenting bagaimana kekuatan dirangkul untuk kembali melakukan gerakan politik sebagaimana yang pernah saya lakukan dulu. Kalau itu yang terjadi insya Allah Golkar akan kembali besar seperti yang saya pimpin dulu," urai Akbar.

Untuk diketahui, dalam Munas VIII Golkar di Bali 2004 lalu Akbar dikalahkan JK secara telak dan 'menyakitkan.' Sebab posisi Akbar yang saat itu menjadi ketua umum demisioner masih memiliki pengaruh dan kekuatan yang luar biasa. Hanya saja karena Akbar dikeroyok oleh semua kekuatan, akhirnya Akbar kalah dalam Munas tersebut.

Kekalahan Akbar itu tidak diobati dengan penghargaan yang layak terhadapnya selama 5 tahun terakhir. Sebab jangankan diposisikan di jabatan strategis sebagai Ketua Dewan Penasihat, sebagai anggota Dewan Penasihat pun Akbar tidak diberi selama 5 tahun terakhir. Akibatnya posisi politik Akbar di Golkar lebih mengedepankan peran pribadi sebagai kader yang masih cinta pada partainya.

(yid/nrl)


Berita Terkait