Ini sekelumit cerita di balik musibah gempa yang mengguncang Bumi Minang. Usai lebaran atau bulan Syawal dianggap hari yang baik dilaksanakannya pernikahan. Begitu juga dengan pasangan pengantin Syarial (25) dengan Izah (22), warga Kecamatan Lubuk Alung, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat.
Usai lebaran sepekan lalu, keduanya telah berencana mengakhiri masa lajang. Usai akad nikah, mereka pun menyebarkan undangan yang tertulis pesta perkawinan akan diselenggarakan Kamis (1/10/2009).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih. Sehari sebelum pesta dilaksanakan, Rabu (30/9/2009) Bumi Minang diterjang gempa. Ribuan rumah ambruk rata dengan tanah. Bersyukur rumah sang pengantin hanya roboh di bagian dapur saja.
Walau baru dilanda gempa, pesta perkawinan tetap dilangsungkan. Mempelai mengenakan pakaian adat Minang. Mereka berdua duduk di pelaminan. Tetapi, tamu undangan tidak ada yang datang. Pesta pun hanya diramaikan beberapa keluarga terdekat saja.
"Pesta tetap dilaksanakan walau tanpa undangan. Mereka tetap foto-foto bersama keluarganya. Pengantinnya bilang, momen foto duduk di pelaminan itu sangat penting untuk kenang-kenangan, walau pestanya tanpa dihadiri tamu," ungkap Jon Hendra, kakak sepupu sang mempelai pria, saat berbincang dengan detikcom, Senin (5/10/2009).
Senyum bahagia tetap terpancar dari wajah kedua mempelai.
"Tidak mungkin dibatalkan, sebab urusan sewa tenda, baju pelaminan semuanya sudah dibayar duluan. Begitu juga dengan masak daging. Jadi nggak mungkin pesta dibatalkan begitu saja," cerita Jon yang kesehariannya bekerja sebagai petani.
Karena tak ada tamu undangan yang datang, akhirnya daging yang sudah dimasak dibagi-bagikan ke korban gempa.
(cha/nov)











































