Kecil Kemungkinan Pemilu Chaos

Kecil Kemungkinan Pemilu Chaos

- detikNews
Kamis, 01 Apr 2004 13:23 WIB
Jakarta - Pemilu susulan atau ditunda akan memperkuat citra negatif di mata internasional. Namun demikian kecil kemungkinan untuk terjadi chaos.Hal itu disampaikan peneliti hubungan internasional CSIS Edy Prasetyono di sela-sela acara launching buku "Keamanan, Demokrasi, dan Pemilu 2004" di Hotel Menara Peninsula, Slipi, Jakarta Barat, Kamis ( 1/4/2004)."Aspek reputasi Indonesia di mata internasional akan terpengaruhi, karena mereka melihat persiapan yang dilakukan untuk Pemilu cukup panjang," katanya.Hal tersebut, lanjut dia, tidak bisa lagi dihindari oleh Indonesia. Karena kalau diurut, kesalahannya pun sudah panjang. Langkah dari pemerintah yang bisa dilakukan untuk memperbaiki citra tersebut, yakni menjalankan prinsip transparansi."Kalau nanti memang terjadi (Pemilu susulan atau ditunda), pemerintah harus transparan semuanya. Jangan ada lagi yang ditutup-tutupi. Sehingga tidak ada spekulasi yang muncul di mata masyarakat Indonesia maupun internasional," ujar Edy.ChaosPengajar di Seskoal ini juga menilai kemungkinan terjadinya chaos sangat kecil pada Pemilu. Karena untuk chaos butuh skenario besar. Sementara indikasinya masih kecil untuk ke arah itu."Namun tidak tertutup kemungkinan terjadinya letupan kecil. Perhitungan suara mungkin ada kerawanan. Kemudian masalah transportasi kotak suara yang riskan disabotase, meski tidak di semua daerah, dan juga tingkat kesalahan dari pemilih. Memang faktor pendidikan pada pemilih kurang diperhatikan, padahal ini sangat penting," tutur Edy.Selain itu, sambung dia, Pemilu susulan atau ditunda akan menimbulkan masalah dalam legitimasi Pemilu. Jeda waktu penyelenggaraan antara Pemilu pertama dengan susulan juga akan menjadi masalah. Karena itu merupakan alasan pelanggaran administrasi. Sehingga bisa jadi hasil Pemilu di tempat itu tidak legitimate."Tapi kalau ada kerusuhan karena ketidakpuasan, memang itu bisa dipicu. Tapi bukan karena terkait Pemilu saja. Memang sentimen budaya kita seperti itu, mudah dimobilisasi," tukas Edy. (sss/)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads