Tidak ada yang istimewa dengan masa kecil Bagus. Dia layaknya anak kecil kebanyakan. Pendidikan dasarnya ditempuh di sebuah madrasah ibtidaiyah di kampungnya, Desa Mijen, Kecamatan kaliwungu, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Setelah itu dia melanjutkan pendidikan di sebuah pondok pesantren di Sewon Kidul, Jepara.
Bagus juga berasal dari kalangan keluarga miskin. Bapaknya, Isman, mencari nafkah dengan berjualan karung untuk menjemur padi. Sedangkan ibunya, hanya buruh pabrik rokok. Mereka tinggal di sebuah rumah yang cukup sederhana.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Anaknya cukup keras, apalagi kalau diganggu teman, dia pasti melawan. Tetapi ngajinya memang pinter," kenang Munsyarif, guru ngaji Bagus saat kecil, Kamis (20/8/2009).
Mengenai aktivitas Bagus setelah dia beranjak dewasa, warga setempat tidak ada yang tahu persis. Sebab seperti dituturkan di atas, setelah lulus madrasah ibtidaiyah, Bagus memang tak lagi tinggal di desa itu. Warga hanya tahu, Bagus telah menikah dengan wanita bercadar. Bagus selalu membawa istrinya saat menengok orang tuanya.
"Kita tidak tahu namanya (istri Bagus). Tapi orangnya selalu memakai kerudung, bercadar serta berkacamata," ujar Purwanti, salah seorang tetangga.
Sementara menurut Zainuri, tetangga lainnya, kedua kakak wanita Bagus juga mengenakan cadar. Zainuri menduga, Bagus belakangan ini tinggal di Solo.
"Bagus kalau pulang menggunakan mobil kijang dengan plat nomor polisi Kota Solo," terang Zainuri.
(djo/djo)











































