Tengok saja sekitar 110 juta penduduk beresiko tertular Malaria. Artinya angka pesakitan manusia Indonesia sekitar tiga juta pertahun. Di sisi lain, ribuan pekerja buruh pabrik yang bekerja pada industri insektisida atau obat antinyamuk bergantung pada besarnya kebutuhan manusia akan obat antinyamuk di sebuah negara.
Mosquito Theatre atau Teater Nyamuk merupakan ikon wisata ilmiah sebagai kegiatan yang mengintegrasikan pembelajaran ilmu pengetahuan, teknologi dan seni bidang kesehatan dengan kegiatan pariwisata.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hal ini disampaikan dalam acara peresmian Gedung Teater Nyamuk di Jl Raya Pangandaran KM 3 Desa Babakan, Kecamatan Pangandaran, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, Rabu (19/8/2009).
Sebagai pendukung wisata ilmiah, gedung berkonsep minimalis dengan nuansa perpaduan hijau, merah dan oranye ini dilengkapi fasilitas sesuai kegiatan yang dilakukan di gedung tersebut.
Fasilitas itu terdiri dari gedung sinema berukuran 9x8 meter dengan kapasitas 120 orang, ruang multimedia yang berfungsi untuk proses editing dan dubbing, pusat pelayanan yang berfungsi sebagai tempat pelayanan informasi, penjualan tiket serta penjualan souvenir dan museum sebagai tempat penyimpanan koleksi dan dokumen.
Museum nyamuk pertama di Indonesia ini dihiasi replika nyamuk ukuran besar pada dinding utamanya. Ada enam Genus (tingkatan) koleksi nyamuk yang dimiliki museum ini, yaitu, Aedes, Culex, Anopheles, Mansonia, Armigeres dan Toxor. Masing-masing genus terdiri dari spesimen, stadium telur, larva, pupa dan nyamuk.
Sementara Kepala Lokalitbang Pengendalian Penyakit Bersumber Binatang (P2B2) Ciamis, Sugianto mengatakan alasan pembangunan Teater Nyamuk dikawasan wisata Pantai Pangandaran sebagai wisata ilmiah aternatif dari wisata-wisata yang sudah ada disekitarnya. Teater Nyamuk memang direncanakan akan dikomersialisasikan namun tidak ditunjukan untuk mengambil keuntungan.
"Keberadaan di sini cukup strategis untuk mendorong geliat pariwisata di daerah ini. Kedepan memang akan dikomersialisaikan, namun tidak profit motif," kata Sugianto.
(mpr/anw)











































