Namun Din berharap tewasnya teroris itu dapat mengurangi aksi terorisme di Indonesia. "Karena kita belum dapat konfirmasi kepastian baik dari sudut DNA, keterangan keluarga yang menegaskan bahwa itu Noordin," kata Din.
Hal itu disampaikan dia saat menghadiri Milad ke 95 Aisyiyah di Asrama Haji Sukolilo Surabaya, Sabtu (8/8/2009).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dengan harapan aksi teroris berkurang dan hilang di tanah air. Karena selama ini, Indonesia menjadi sasaran aksi teroris, dan ini menjadi kerugian bagi bangsa. Termasuk Islam karena para teroris merusak citra Islam," lanjutnya.
Ia mengatakan, sebagai elemen bangsa, patut memberikan penghargaan dan dukungan pada polisi yang akhir-akhir ini menunjukan keseriusannya memberantas terorisme, baik menangkap dengan hidup atau menemukan mati terutama teroris yang menjadi incaran polisi Noordin M Top.
"Kepolisian telah menunjukan gregetnya dan ini yang kita harapkan. Ke depan kita berharap polisi melakukan pendekatan preventif, penangkalan, pencegahan, bukan bergerak setelah ada kejadian," katanya.
Tapi, teroris adalah musuh bersama, musuh agama dan bangsa. Din menegaskan, Islam tidak mentolelir pembunuhan terhadap orang-orang yang tidak berdosa. Karena itu, perlu kebersamaan semua elemen termasuk pemerintah, tokoh masyarakat, tokoh agama dengan menggunakan fungsi masing-masing.
"Alhamdulillah ulama sudah menyebarkan bahwa Islam sebagai pembawa rahmat untuk semua alam. Mungkin dakwah ini tidak masuk ke teroris karena tidak masuk ke dalam masjid-masjid atau mungkin tidak mau mendengarkan," ujarnya.
(roi/ken)











































