Berbatasan dengan Malaysia, Kaltim Rawan Masuknya Teroris

Bom Marriott & Ritz-Carlton

Berbatasan dengan Malaysia, Kaltim Rawan Masuknya Teroris

- detikNews
Senin, 27 Jul 2009 17:17 WIB
Jakarta - Propinsi Kalimantan Timur (Kaltim) menjadi salah satu jalan masuk teroris jaringan Jamaah Islamiyah (JI) ke sejumlah wilayah di Indonesia. Kaltim tepatnya di wilayah Nunukan, berbatasan langsung dengan Malaysia.

Hal itu disampaikan mantan anggota JI, Nasir Abas kepada wartawan usai tampil dalam rapat koordinasi bidang politik, hukum dan keamanan di kantor Gubernur Kaltim, Samarinda, Senin (27/7/2009).

"Kaltim jadi daerah transit karena wilayahnya berbatasan dengan Malaysia," kata Nasir.

Kerawanan di daerah perbatasan RI-Malaysia di Nunukan, juga dialami Nasir. Tahun 2000-2002, Nasir berhasil lolos memasuki Nunukan, Kaltim dengan memalsukan identitas paspor dan menggunakan KTP Palsu.

Saat itu, Nasir mengaku memiliki 2 nama samaran yaitu Edi Sugiarto dan Edi Mulyono. "Memalsukan identitas seperti itu sudah mahir dilakukan anggota JI untuk mengelabui petugas seperti yang terjadi di perbatasan," ujarnya.

Nasir Abas merupakan anggota JI yang direkrut di Malaysia, tahun 1980-an. Noordin M Top, merupakan juniornya setelah bergabung dengan JI sekitar tahun 1997 di Johor Malaysia.

Pada tahun yang sama, Nasir memilih hijrah ke Sabah dan putus kontak dengan JI. Abbas menjabat Ketua Wilayah Ketiga meliputi Sabah Malaysia, Kaltim, Sulawesi Tengah, Sulawesi Utara dan Mindanao, Filipina Selatan.

"Setelah saya berkomentar seperti ini, memang ada saja ancaman-ancaman dari anggota JI yang ingin mencelakakan saya," akui Nasir.

Abas pernah merakit senjata dan bom. Selama 6 tahun di Afghanistan, 3 tahun diantaranya mengikuti kuliah di Akademi Militer Mujahidin dan 3 tahun lagi mengajar di Akmil tersebut.

Di Indonesia, JI memiliki tempat pelatihan di Poso dan Ambon. Lantas bagaimana dengan kegiatan pelatihan serupa di Kaltim seperti sasaran tembak wajah SBY?

"Saya tidak komentar dulu soal itu," pungkasnya.

Sementara di tempat yang sama, Gubernur Kaltim, Awang Farouk Ishak membenarkan hingga saat ini sistem kependudukan di Indonesia masih tidak maksimal.

"Saya saja punya 3 KTP. Padahal orangnya cuma 1," kata Awang.

(gus/gus)


Berita Terkait