Demikian kata Presiden SBY saat membuka rakor percepatan pemberantasan korupsi, Senin (13/7/2009). Rakor berlangsung di Kantor Presiden, Jakarta.
"Kalau ada apa-apa, kita selalu mencari solusi bersama. Hindari megaphone diplomacy, lebih banyak bicara kepada pers dibandingkan menyelesaikan masalah di antara kita," kata SBY.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Contohnya proses hukum kasus penembakan yang melibatkan Ketua KPK Antasari Azar. Selain wacana di tingkat publik dan tingkat media massa yang disebut bahwa kasusnya tidak ada kaitannya dengan KPK, tetapi ada juga menuding bertujuan untuk menggembosi KPK.
Kasus lainnya adalah pernyataan Presiden SBY tentang perlunya pengawasan efektif bagi lembaga negara yang disampaikan sebelum pilpres. Pernyataan itu lalu juga diwacanakan sebagian pihak sebagai upaya pelemahan fungsi KPK terkait kasus hukum yang melibatkan besan SBY, Aulia Tantowi Pohan.
"Inilah yang harus kita jernihkan, letakkan pada permasakahan yang benar supaya rakyat tidak mendapatkan informasi keliru tentang semuanya itu," papar SBY.
Sebelumnya juga disinggung tentang rivalitas antarlembaga penegakan hukum yang bagi SBY bisa produktif. Tapi sayangnya rivalitas itu lebih sering berujung pada gesekan antar lembaga negara penegak hukum.
Di waktu lalu terjadi gesekan antara KPK dengan MA, lalu KPK dengan BPKP, sekarang ini barangkali sedikit ada gesekan antara KPK dengan Polri. Padahal semua ingin menjalankan tugas sebaik-baiknya dan tidak punya niat menggagalkan pemberantasan korupsi.
"Jangan kita justru saling tidak mendukung di antara kita satu sama lain dalam menjalankan tugas yang tidak ringan dan mulia ini," wanti SBY.
(lh/nrl)











































