"Ayah diludahi dan dipukul. Kami hanya bisa menangis kesal," kata Akbar saat berbincang melalui telepon dengan detikcom, Senin (15/6/2009).
Akbar menuturkan, peristiwa itu bermula saat diberlakukan jalur searah (one way) di jalur Puncak mengarah ke Jakarta pada Minggu 24 Mei pukul 16.00 WIB. Saat itu kendaraan milik Edwin sudah sampai di dekat Hotel Bima Cakti. Sementara rombongan moge dengan dipimpin vorrijder dari kepolisian meminta didahulukan. Lalu para pengendara lainnya pun meminggirkan kendaraan mereka ke sisi kiri.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Rombongan yang tercecer meminta mobil Nissan X-Trail yang ditumpangi keluarga Edwin menepi kembali ke kiri. "Ayah sudah mau menepi tapi lalu lintas padat jadi tidak bisa langsung masuk. Kemudian mereka memukul-mukul mobil," jelas Akbar.
Karena panik, Edwin memencet klakson. Tapi para pengendara moge justru tidak terima. "Ada 7-10 orang yang menutup jalan mobil, waktu ayah mau keluar, pintu mobilnya malah ditahan dan waktu buka kaca mobil ayah malah ada yang mukul dan diludahi," imbuhnya.
Insiden yang berlangsung sekitar 10 menit ini kemudian selesai saat seorang petugas peolisi datang dan memisahkan keributan ini. "Ayah kemudian lapor ke Polsek Cisarua, tapi motor gede itu sudah hilang, pergi," jelas Akbar yang merasa trauma dengan kejadian itu.
Kini, meski sudah beberapa waktu berlalu, Akbar masih menyimpan kenangan buruk itu. "Kenapa mereka berbuat seperti itu ya?" tanya remaja ini.
Anda setuju atau tidak setuju bila konvoi moge dilarang? Ikuti: Pro dan Kontra! (ndr/nrl)











































