"Jelas saya merasa tertipu. Karena saya tadinya melihat internasional-nya saja," kata Juliana saat dihubungi wartawan, Jumat (12/6/2009).
Juliana mengatakan, ratusan juta uang yang dia keluarkan untuk membiayai selama perawatannya saat dia melakukan persalinan di rumah sakit tersebut. Namun, tarif internasional rumah sakit tersebut tidak menjamin perawatannya bertaraf internasional.
"Tapi mutunya ternyata tradisional. Nyatanya nanganin anak kembar saja seperti itu," kata Juliana.
Juliana tidak hanya merugi secara materi. Namun dia juga harus mengalami kerugian immateri yang tidak ternilai harganya.
"Bayangkan, mata anak saya tidak bisa melihat. Bagaimana masa depan mereka?" urai Juliana.
Awalnya Juliana melahirkan anak kembarnya, Jared dan Jayden di RS Omni Internasional pada 26 Mei lalu. Bayi kembar itu lahir secara prematur dengan berat badan kurang dari 2 kilogram, sehingga harus dirawat dalam incubator.
Keesokan harinya, dokter spesialis anak yang menangani kedua buah hatinya, dr. Ferdy Limawal mengatakan bahwa Jayden mengalami masalah dengan paru-parunya. Namun selama menderita paru-paru, Jayden tidak ditangani oleh dokter spesialis penyakit dalam.
Setelah dirawat selama 42 hari, tepatnya 6 Juli 2008, dr. Ferdy menyatakan kedua bayi sudah bisa dibawa pulang. Satu bulan setelah keluar dari rumah sakit, kedua bayinya dibawa ke dokter spesialis mata.
Dari diagnosa terhadap anaknya, ternyata Jayden mengalami silinder 2,5 sedangkan Jared mengalami kebutaan akibat syaraf matanya lepas dari retinanya yang sudah memasuki stadium 4.
(mei/anw)











































