Minggu (10/05/2009), umat Buddha berbondong-bondong menuju Desa Muara Takus Kecamatan XII Koto Kampar, Kab Kampar, Riau. Di sanalah terletak candi Buddha Muara Takus yang diyakini dibangun masa kejaan kerajaan Sriwijaya. Jaraknya lumayan jauh dari Pekanbaru, ibukota Riau, sekitar 130 km mengarah ke Sumatera Barat.
Umat Buddha yang datang sebagian besar dari Pekanbaru. Mereka menggunakan bus serta kendaraan pribadi. Prosesi keagamaan dimulai pukul 13.00 WIB hingga pukul 14.30 WIB.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selama proses kebaktian berlangsung, sejumlah turis lokal yang berwisata di lokasi candi tersebut, hanya menyaksikan di luar pagar yang menglilingi candi. Masyaratkat di luar agama Buddha memberikan kesempatan untuk pelaksanaan ibadah tersebut agar berjalan hikmat.
Menurut Jefri (27) pelaksana waisak, yang mereka lakukan ini memang telat sehari. Namun menurutnya, kemarin mereka juga sudah melaksanakan kebaktian di klenteng yang ada di Pekanbaru.
"Kemarin kita sudah melaksanakan kebaktian di vihara. Namun sekarang kita kembali melaksanakan yang sama di candi ini. Pelaksaan ibadah di candi ini hanya dilaksanakan setahun sekali yaitu hari waisak saja. Sedangkan ritual lainnya kami lebih banyak di vihara yang ada di Pekanbaru," kata Jefri.
Candi muara takus merupakan sisa peninggalan purba kala. Namun sampai saat ini belum ada satu peneliti yang dapat memastikan kapan candi ini dibangun. Materil bangunan candi ini terbuat dari tanah liat.
Di sekitar candi hanya ada dua rumah warga. Di luar hari libur, lokasi wisata itu sangat sepi. Ini karena memang lokasi candi sangat jauh dari akses kota. Candi ini berada di bibir Sungai Kampar.
(cha/mad)











































