"Alasannya supaya naik pangkat," ujar Kabareskrim Mabes Polri, Komjen Pol Susno Duadji, di Mabes Polri, Jl Trunojoyo, Jaksel, Selasa 5 Mei kemarin.
Namun informasi yang beredar dilingkungan kepolisian menyebutkan dia juga mengincar sebuah posisi strategis. Kasubdit Pariwisata Direktorat Pengamanan Objek khusus Babinkam Polri ini, dikabarkan berambisi untuk menjadi Direktur Reserse Kriminal Umum (Dirkrimum) Polda Metro Jaya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dia mengklaim akan menduduki posisi kosong yang telah ditinggalkan oleh Kombes Carlo Tewu (kini menjabat wakil direktur I Kamtrannas Bareskrim Mabes Polri) yang hendak dipromosikan. Namun apa daya, justru teman satu angkatan waktu masuk Akpol yang terpilih, yaitu Kombes M Iriawan.
Kapolri Jenderal Bambang Hendarso Danuri, lebih memilih pria yang akrab dipanggil Iwan Bule tersebut dibanding Wiliardi yang memiliki pengalaman menjadi di beberapa wilayah itu.
Diduga karena sudah terlanjur malu dengan pernyataannya, maka ketika diminta oleh Antasari untuk ikut terlibat dalam skenario pembunuhan Nasrudin, Wiliardi pun tidak menolaknya. Karena ia menganggap ini peluang bagus untuknya agar mendapat promosi dengan bantuan lobi ketua KPK.
"Iya (diperintah Antasari). Mestinya kalau polisi, yang memerintah atasannya polisi langsung. Kalau dia diperintah orang lain," terang Susno.
Jalan pikiran Wiliardi pun dianggap salah, dalam mewujudkan ambisinya tersebut. Dirinya dianggap salah jalur.
Kini bukan hanya ambisinya yang tidak dapat diwujudkan. Karirnya di Kepolisian pun terancam tamat.
"Nggak bisa jadi polisi lagi. Siapa yang mau ditangkap dia," imbuh Susno.
Selain tengah menjalani pemeriksaan etika dan profesi oleh Divisi Propam Polri. Wiliardi nantinya juga akan diperiksa sebagai tersangka dalam kasus pembunuhan Nasrudin.
Uniknya pemeriksaan akan dilakukan oleh jajaran Direktorat Kriminal Umum Polda Metro Jaya. Tempat yang selama ini menjadi ambisi Wiliardi untuk diduduki.
(ddt/lrn)











































