Kapolda Riau, Brigjen Adjie Rustam Ramdja mengungkapkan, tersangka bernama Muriadi alias Iwan, warga Desa Rangkitan Kecamatan Ramba Samo, Kabupaten Rohul. Usai membunuh empat korbannya, tersangka melarikan diri dengan membawa sepeda motor milik korban.
Namun sepeda motor ini kemudian ditumpangkan ke bus dari Rohul menuju Medan, Sumatera Utara. Namun dalam perjalanannya, seorang warga mengetahui jika sepeda motor tersebut milik korban. Dari laporan warga lantas Polres Rohul berkoordinasi dengan sejumlah Polsek yang berada di daerah perbatasan dengan Sumut.
"Kami lantas menghentikan bus di daerah Sikampak, Kabupaten Labuhan batu, Sumut. Setelah dihentikan, ternyata benar, tersangka ada di dalam bus itu. Dari tangan tersangka, juga disita HP, VCD, Tape yang merupakan milik korban. Dari sana, tersangka kita giring ke wilayah hukum kita," kata Kapolda Riau.
Dalam memberikan keterangan di hadapan wartawan, tersangka tidak menunjukan rasa penyesalannya. Dia dengan enteng menjawab semua pertanyaan, walau kadang agak ngawur menjawabnya. Misalnya saat ditanya motif perbuatannya, tersangka menjawab hanya sakit hati.
Tersangka adalah mantan napi dalam kasus pencurian di rumah polisi. Dia beberapa bulan keluar dari penjara. Namun begitu keluar, dia menobatkan dirinya sebagai dukun.
Tersangka datang ke rumah korban, Ahmad Halawa (43), untuk menagih hutang dalam urusan perdukunan. Selama ini tersangka memang mengobati mertua Ahmad yang mengalami gangguan jiwa. Namun karena tak kunjung sembuh, Ahmad kemudian membawa pulang mertuanya itu kampung halamannya, di Baganbatu, Riau.
Namun Muriadi tetap ngotot meminta uang jasanya yang belum dibayar korban. Sehari sebelum kejadian pembunuhan, tersangka menginap di rumah korban. Tapi malam harinya, dia mendengarkan cerita Ahmad yang ditelepon adik iparnya, Monang Siregar. Adiknya ini menyebut, ada dukun baru yang mampu menyembuhkan penyakit orangtuanya. Monang meminta uang pada abang iparnya dan berjanji akan dikirmkan.
Mendengar cerita itu, tersangka merasa sakit hati. Karena hutang korban sendiri belum dibayar, sudah mau pakai dukun yang baru.
"Saya sakit hati, sama saya hutang belum lunas, kok malan mau bayar dengan dukun yang lain. Makanya mereka saya bunuh semuanya, karena saya sakit hati," kata tersangka tanpa merasa bersalah.
Seperti diberitakan sebelumnya, Ahmad, bersama istrinya Neli Siregar (35) dan dua putrinya, Pujianti (7) dan sagita (8) tewas dibunuh. Keempatnya meninggal dalam kondisi yang mengenaskan.
(cha/djo)











































