Perempuan bertangan delapan adalah patung berjudul 'Flourescensy of Me' karya Theresia Agustina yang dipamerkan di Komunitas Salihara, Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Ini merupakan bagian dari pameran seni rupa 10 Perupa Perempuan yang dibuka pada 3 April dan akan berakhir pada 17 April. Pameran ini untuk memperingati Hari Perempuan dan Hari Kartini.
Mayoritas karya 10 perupa perempuan itu menampilkan kegamangan perempuan masa kini. There, panggilan akrab Theresia misalnya, menerjemahkan Kartini sekarang sebagai perempuan bertangan delapan. Pergantian abad memang telah membuat perempuan (Indonesia) ikut menikmati modernisme, mendapatkan karir serta akrab dengan ilmu pengetahuan dan teknologi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tangan sebelah menggendongmu, anakku, sebelah lagi menyuapi puting kehidupan. Timang-Timang anakku sayang...Tidurlah, nak, Ibu masih ada kerjaan. Supaya besok kau punya tabungan, supaya kita bisa ke dokter bila kau demam." Demikian antara lain Kurie Suditomo mendeskripsikan keresahan perempuan berdasarkan patung There.
Kegamangan perempuan juga muncul dalam karya Astari berjudul "READ". Dalam patung dari perunggu, Astari menampilkan tas perempuan yang berisi Alquran, The Wall Street Journal, dan digantungi tasbih. Siapakah perempuan pemilik tas tersebut? Mungkin orang akan membayangkan sosok perempuan ideal sebagai pemilik tas tersebut.
Ia barangkali perempuan kelas atas, berpendidikan tinggi yang saleh dan patut dijadikan panutan. Tapi tunggu! Lihatlah ada tulisan 'READ' pada tas itu. Dengan membubuhkan tulisan 'READ', Astari seperti ingin mengingatkan, baca dengan hati-hati, jangan mudah percaya pada penampilan. Bisa saja si pemilik tas itu hanya menjadikan Alquran dan tasbih sebagai aksesoris belaka.
Ada pula lukisan Wara Anindiyah yang berjudul 'Sembilan Belas Pertanyaan'. Ini lukisan tentang putri duyung. Tapi bukan putri duyung yang cantik jelita dengan tubuh langsingnya yang kerap muncul dalam dongeng-dongeng ataupun kisah sinetron. Putri Duyung yang dilukis Wara justru jauh dari gambaran dongeng yang indah itu. Sang putri malah bertubuh gemuk dengan wajah seperti monster, mata membelalak, hidung melengkung dan mulut merengut tanpa senyum. Putri duyung gemuk berwajah monster ini asyik berbicara dengan burung mungil.
Tema yang agak berbeda disampaikan Arahmaini lewat lukisannya 'Hot Date'. Dengan bermain-main lewat tokoh kartun Miki dan Mini Tikus, Arahmaini menyoroti hubungan AS dengan negara Timur Tengah. Dalam Hot Date, Miki dan Mini tengah berkencan, tapi dalam lukisan Arahmaini, Mini bercadar dan dan bergaun panjang hitam. Sementara Miki memakai baju bergambar bendera AS. (iy/nrl)











































