UE Pandang RI Strategis untuk Kontraterorisme

UE Pandang RI Strategis untuk Kontraterorisme

- detikNews
Rabu, 18 Mar 2009 18:32 WIB
Yogyakarta - Uni Eropa (UE) memandang penting untuk menjalin hubungan kerjasama dengan Indonesia. Sebab Indonesia secara geopolitik mempunyai posisi strategis di kawasan Asia Tenggara, utamanya untuk memerangi teroris.

Dari sisi jumlah penduduk, Indonesia merupakan negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia. Sedang dari sisi ekonomi, Indonesia merupakan pasar terbesar di Asia Tenggara dan Asia.

Hal itu diungkapkan Duta Besar UE untuk Indonesia Julian Wilson dalam acara 'Overview of EU-Indonesia Relations' di Konvensi Perdana Studi Eropa di Indonesia di Pascasarjana, UGM, Rabu (18/3/2009).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Di ASEAN, Indonesia sangat strategis dari sisi geopolitik. Penduduk muslim yang besar ini juga potensi untuk counter terorisme," kata Wilson.

Dia mengatakan, saat ini UE tidak hanya menjalin hubungan kerjasama itu yang bersifat ekonomis saja, tapi juga yang lain seperti sosial, budaya dan kemanusiaan. Sedang dari sisi politik, Indonesia dianggap berhasil dalam hal pengembangan demokrasi dan penyelesaian konflik di Aceh.

"EU ingin adanya hubungan kerjasama yang sama dengan Indonesia," ungkap dia.

Dia mengakui masih banyak warga Eropa yang tidak mengetahui wilayah Indonesia. Namun mereka lebih mengetahui tempat wisata di Pulau Bali yang sangat eksotis.

Hal itu seperti orang Amerika yang lebih mengetahui kota Paris dari pada negara Prancis.

"Tapi setelah ada tsunami di Aceh, dari 27 negara anggota UE itu kemudian banyak yang tahu Indonesia. Berbagai bantuan kemanusiaan juga kami kirimkan ke sana," katanya.

Sementara itu secara terpisah staf pengajar Hubungan Internasional UGM Muhadi Sugiono menambahkan, negara-negara di kawasan Asia perlu menerapkan model integrasi regional di bidang pendidikan dan ekonomi seperti yang dilakukan UE.

Namun demikian masih diperlukan pemahaman secara mendalam dan lebih baik untuk menjadikan UE sebagai model integrasi regional di segala bidang.

"Kita perlu mengembangkan pemahaman untuk menjadikan Eropa sebagai model integrasi regional. Selama ini kita punya asumsi yang salah tentang UE. Entah dalam politik, ekonomi dan sebagainya," katanya.

Menurut dia, perkembangan UE tidak dapat ditiru sepenuhnya, sehingga diperlukan pemahaman dan pengamatan lebih detil dan baik agar bisa diterapkan.

Di bidang pendidikan, imbuh Muhadi, sistem pendidikan yang terintegrasi di UE dapat diterapkan. Mahasiswa di Eropa diwajibkan kuliah selama 1 semester di negara lainya.

"Dari integrasi pendidikan ini, mahasiswa dari tiap negara bisa pindah ke negara lainnya, sehingga transfer knowledge dan budaya terhadap anak muda di Eropa cepat terjadi saat ini," katanya. (bgs/nwk)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini