"Boeing 737-900 itu pesawat baru, peralatannya sangat canggih. Terlebih kondisi landasan bisa digunakan untuk mendarat, kemungkinan kecil terjadi kecelakaan, apalagi kepeleset," kata anggota Kaukus Penerbangan DPR, Alvin Lie, kepada detikcom, Senin (9/3/2009).
Menurut Alvin, koordinasi antara pihak bandara dan kapten penerbang sangat diperlukan untuk menjamin keselamatan pendaratan. Sebelum pendaratan, pengelola bandara mempunya kewajiban apakah landasan layak didarati atau tidak, kalau ada genangan air pasti bandara ditutup.
Jadi kesalahan ada pada pilot?
"Pengelola bandara sudah mempersilakan mendarat, ya itu tinggal keputusan pilotnya saja, saya kira tidak perlu berspekulasi penyebabnya, biarkan KNKT yang menanganinya," ujar penghobi dirgantara ini.
Kejadian seperti ini, menurut Alvin, adalah insiden serius yang harus cepat ditangani oleh Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT). Setelah diselidiki oleh KNKT akan diketahui dengan jelas apa penyebab kecelakaan ini.
"Ini serious incident," ujar politisi PAN ini.
Menurut Alvin, proses evakuasi pesawat bisa dilakukan cepat. "Soekarno-Hatta mempunyai peralatan yang sangat lengkap, kalau kerusakannya tidak serius ya paling tidak setengah hari sudah dapat diselesaikan," pungkasnya.
Pesawat Lion Air 737-900 ER dengan kode penerbangan JT 793 Reg PKLI jurusan Makassar-Jakarta patah bagian landing gear dan sayap bagian kiri. Pesawat ini dipiloti Capt Ratiman.Sebelumnya, Alvin mendapat informasi bahwa pesawat yang tergelincir itu adalah pesawat MD 90, bukan Boeing 737-300 ER
(van/nrl)











































