Iran Wanti-wanti Serangan ke Lebanon Picu Perang Vs AS-Israel Meletus Lagi

Iran Wanti-wanti Serangan ke Lebanon Picu Perang Vs AS-Israel Meletus Lagi

Yogi Ernes - detikNews
Kamis, 04 Jun 2026 04:24 WIB
(FILES) Iranian Foreign Minister Abbas Araghchi attends a joint press conference with his Iraqi counterpart Fuad Hussein in Tehran on January 18, 2026. Iranian Foreign Minister Abbas Araghchi arrived in Beijing on May 6, 2026 ahead of scheduled talks
Foto: Abbas Araghchi (AFP/ATTA KENARE)
Jakarta -

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi memperingatkan bahwa serangan ke wilayah Lebanon berpotensi menyebabkan negaranya bisa kembali berperang melawan Amerika Serikat (AS) dan Israel. Dia menyebut perdamaian di Timur Tengah tidak bisa dilepaskan dari kondisi di Lebanon.

"Nasib perang antara Iran dan zionis (Israel) dan Amerika tidak dapat dipisahkan dari nasib pertempuran di Lebanon, dan kedua front ini telah saling terkait sejak hari pertama," kata Araghchi dilansir AFP, Kamis (4/6/2026).

Iran menegaskan kesepakatan untuk mengakhiri perang di Timur Tengah mencakup penghentian serangan ke Lebanon. Araghchi mengatakan militer Iran siap berperang melawan AS dan Israel jika koalisi dua negara itu terus menyerang Lebanon.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Setiap serangan terhadap Beirut akan memiliki konsekuensi serius dan akan menyebabkan dimulainya kembali perang skala penuh," katanya.

Dia menambahkan, penarikan pasukan Israel di Lebanon merupakan satu-satunya cara untuk mengakhiri perang di negara tersebut.

"Berakhirnya perang di Lebanon juga berarti berakhirnya pendudukan. Artinya, berakhirnya perang harus disertai dengan penarikan pasukan rezim Zionis dari wilayah yang telah mereka duduki," kata Araghchi.

Komentar Araghchi ini muncul ketika para diplomat Israel dan Lebanon akan mengadakan pembicaraan langsung hari kedua di Washington.

Pembicaraan tersebut merupakan bagian dari putaran keempat pembicaraan sejak pertempuran di Lebanon meletus ketika Hizbullah menembakkan roket ke Israel sebagai balasan atas pembunuhan pemimpin tertinggi Iran.

(ygs/ygs)


Berita Terkait