Derita, Sampah dan Pungli Kelas Teri

Derita, Sampah dan Pungli Kelas Teri

- detikNews
Selasa, 03 Mar 2009 16:53 WIB
Derita, Sampah dan Pungli Kelas Teri
Jakarta - Peluh dan keringat terus mengucur dari kepala Yudha, 55, di Tempat Pembuangan Sampah (TPS) Pasar Minggu. Lokasinya yang berada di belakang pasar membuat tumpukan sampah tak kunjung habis. Dari sampah sayuran hingga sampah plastik bekas.  

"Saya digaji Rp 400 ribu sebulan," kisahnya kepada detikcom, Selasa, (3/3/2009) di TPS.

Gaji yang sangat kecil itu membuatnya kekurangan makanan. Tampak badannya yang semakin kurus dan sakit-sakitan. "Gaji itu dari pengurus di Komplek Rawa Minyak," tutur laki-laki beranak 3 yang menghisap rokok dari pemberian masyarakat.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pekerjaan yang berpeluh keringat dan sampah busuk menjadikan beberapa warga iba sehingga memberi sedekah. Meski tak selalu, tapi itu sangat berarti bagi lelaki asal Klaten itu. "Kadang Rp 5 ribu atau beberapa batang rokok. Tapi itu tidak selalu," ceritanya dengan menyandarkan tubuh di gerobak.

Sayang, uang belas kasih ini tak selamanya mampir ke kantongnya. Selidik punya selidik, dia mesti menyetor uang Rp 250 ribu tiap bulan ke otoritas pengelola TPS. " Ya ujung-ujungnya cuma dapat Rp 400 ribu saja," kata dia dengan menghirup napas dalam-dalam.

Dengan uang sejumlah itu, Yudha mengaku kehidupannya makin susah. Walaupun tidak dikaruniai anak, uang sejumlah itu mesti dicukup-cukupkan buat mengontrak rumah dan menafkahi seorang isteri serta anak-anaknya. "Seringkali nggak masak. Harga-harga sembako makin mahal," keluhnya menutup pembicaraan.

(asp/nrl)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads