"Dalam dua minggu ini, cikungunya ini sudah merambah seluruh dari 32 desa di Kabupaten Lombok Utara. Tidak ada desa yang tidak ditemukan penderita cikungunya," ujar Sekretaris Daerah Lombok Utara, Johan Sjamsu, Rabu (11/2/2009) melalui sambungan telepon.
Pihaknya kata Johan, saat ini tengah menginventarisir angka pasti jumlah penderita. Data sementara lebih dari 350 orang sudah teridentifikasi penyakit yang melemaskan persendian ini. Sebagian besar masih dirawat di pusat-pusat kesehatan masyarakat di Lombok Utara. Sebagian sudah ada yang dirujuk ke Rumah Sakit Umum Mataram.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kita masih data penderita seluruhnya. Tapi sampai sekarang, kami belum mendapat laporan adanya korban jiwa," ujarnya.
Perkiraan sementara, cikungunya ini cepat mewabah karena musim penghujan masih berlangsung. Dua kecamatan dengan jumlah penderita paling banyak adalah kecamatan yang dikategorikan daerah lembab karena berada di kaki Gunung Rinjani.
Meski demikian, wabah cikungunya ini belum ditetaokan sebagai kejadian luar biasa. Biasanya yang berwenang menetapkan kejadian luar biasa adalah Dinas Kesehatan. Hanya saja, Lombok Utara hingga kini belum memiliki Dinas Kesehatan.
Kabupaten ini baru diresmikan Menteri Dalam Negeri pada 30 Desember 2008 lalu. Saat ini pejabat pemerintahan yang ada di Lombok Utara baru hanya Bupati, Sekretaris Daerah dan Camat.
Dihubungi terpisah, Kepala Dinas Kesehatan NTB, Moch. Ismail mengatakan, dirinya baru menerima laporan atas serangan cikungunya ini. Pihaknya akan mempelajari, apakah perlu ada penetapan Kejadian Luar Biasa atau tidak. Namun diakui, ini kali pertama, penderita cikungunya begitu banyak dijumpai di Lombok Utara. (djo/djo)











































