Diserang Demonstran, PM Selandia Baru Terguncang

Diserang Demonstran, PM Selandia Baru Terguncang

- detikNews
Jumat, 06 Feb 2009 10:55 WIB
Diserang Demonstran, PM Selandia Baru Terguncang
Wellington - Aksi pemukulan Ketua DPRD Sumut Abdul Aziz Angkat tengah menjadi pemberitaan nasional. Namun di Selandia Baru, Perdana Menteri negara tersebut, John Key juga menjadi target serangan demonstran.

Meski tidak mengalami luka-luka dalam insiden penyerangan itu, Key cukup terguncang. "Semua terjadi sangat cepat dan saya sebenarnya cukup terguncang," ujar PM Key pada Radio New Zealand seperti dilansir kantor berita AFP, Jumat (6/2/2009).

Insiden memalukan itu terjadi saat Key menghadiri seremoni perayaan nasionalΒ  "Waitangi Day" pada Kamis, 5 Februari waktu setempat. Serangan tiba-tiba terjadi persis sesaat setelah Key keluar dari mobilnya saat tiba di gedung pertemuan Maori di Waitangi, sekitar 200 kilometer sebelah utara Auckland.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Seorang pria demonstran mendorong tubuh Key dari arah belakang dan mencengkeram tangannya. Pria itu juga menarik baju Key. Para pengawal Key kemudian menarik pria itu dan menyeretnya pergi.

Namun hanya beberapa detik kemudian, seorang pria lainnya mendekati Key. Demonstran itu juga sempat mendorong tubuh Key sebelum kemudian diamankan polisi dan pengawal Key.

Key yang baru menjabat tiga bulan lalu, mengatakan insiden ini tak akan menghalangi dialog antara pemerintah dan penduduk asli Maori. Key juga tak mempermasalahkan pengamanan dan tak ingin memperkarakan kedua penyerang itu.

Kedua pria tersebut berusia 19 tahun dan 33 tahun. Mereka dikenai dakwaan penyerangan dan hanya diperintahkan untuk menjauh dari Waitangi.

Mantan PM Selandia Baru Helen Clark berhenti mengunjungi Waitangi sejak lima tahun lalu setelah dirinya berdesak-desakan dengan massa.

Waitangi Day menandai penekenan perjanjian antara penguasa Inggris dan Maori pada tahun 1840 yang memberikan hak-hak sama pada masyarakat asli tersebut dan kepemilikan tanah-tanah kesukuan. Namun perayaan tahunan hari nasional tersebut kerap diwarnai dengan aksi protes Maori yang menganggap hak-hak mereka telah dilanggar.
(ita/nrl)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads