"Tak seorang pun bisa membayangkan betapa mengerikan tempat itu. Bahkan setan pun tidak bisa membuat tempat seburuk itu," ujar salah seorang 'alumni' Guantanamo, Mustafa Ait Idir, seperti ditulis AFP, Kamis (22/1/2009).
"Saya diinterogasi dan dipukuli lebih dari 500 kali selama 7 tahun. Sipir penjara datang berkelompok 6 atau 7 orang, selalu menyemprot kami lebih dulu sebelum mulai memukuli," imbuhnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sekitar 800 orang telah melewati gerbang Guantanamo, dan 245 orang masih merana di sana, menanti penutupan penjara terebut oleh Presiden Barack Obama. Sebagian besar di antaranya tidak pernah diadili.
"Kita tidak bisa menghilangkan bagian gelap dari sejarah negara kita hanya dengan menutup kamp tahanan Guantanamo. Pemerintahan yang baru harus menyelidiki apa yang salah dan siapa yang harus bertanggung jawab," ujar Eric Stover, peneliti dari University of California di Barkeley.
Stover bersama rekannya, Laurel Fletcher, melakukan sebuah studi atas 72 tahanan Guantanamo yang telah dibebaskan. Dia meneliti apa yang disebutnya 'efek akumulatif dari pembelengguan, kurungan yang panjang, hinaan seksual, dan rasa dingin yang sangat.'
Dari penelitiannya, Stover menyimpulkan bahwa tahanan yang dirantai dalam jangka waktu lama dalam posisi tidak nyaman dan diperdengarkan musik yang keras dan cahaya yang silau akan mengalami kram dan halusinasi.
"Hal-hal semacam itu terjadi sepanjang waktu secara berulang-ulang. Kami bertanya-tanya, dan seharusnya diselidiki lebih jauh, apakah efek akumulasi itu bisa menyebabkan siksaan," terangnya. (sho/nrl)











































