Kondisi keempat korban sulit dikenali oleh Tim SAR sehingga harus dilakukan identifikasi lebih lanjut oleh tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Sulsel.
"Korban ditemukan sekitar pukul 18.30 WITA," kata Kepala Kantor Kesatuan Pelaksana Pengamanan Pelabuhan (KPPP) Poltabes Samarinda AKP Handoko yang berada di Pare-pare Sulawesi Selatan, ketika dihubungi detikcom melalui telepon, Jumat (15/1/2009).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tidak ada tanda pengenal apapun. Untuk itu harus dilakukan identifikasi," ujar Handoko.
Sementara pantauan detikcom di Posko Pengaduan Korban di KPPP Poltabes Samarinda di Jl Yos Sudarso, keluarga korban masih terus mendatangi posko tersebut untuk mencari tahu kondisi terkini upaya pencarian korban yang dilakukan Tim SAR gabungan. Sejumlah keluarga korban juga berupaya melengkapi persyaratan-persyaratan berupa himpunan data korban yang nantinya akan disinkronkan dengan ciri-ciri korban yang ditemukan Tim SAR di Majene dan Pare-pare.
"Data yang kami terima, segera kami serahkan ke Tim DVI Polda Sulsel untuk memudahkan identifikasi," kata penanggungjawab Tim DVI Polda Kaltim Ipda Lusi Indriani.
Data Korban Simpang Siur
Data korban KM Teratai Prima masih simpang siur. Informasi yang diperoleh detikcom di KPPP Poltabes Samarinda, seluruh korban yang berhasil ditemukan hingga Kamis 15 Januari pukul 18.30 WITA berjumlah 43 orang, 6 di antaranya meninggal dunia. Kesimpangsiuran jumlah korban, membuat sejumlah keluarga korban kecewa.
"Kami keluarga berharap, benar-benar mendapat informasi yang akurat," kata Udin warga Kota Sengata, Kabupaten Kutai Timur kepada detikcom di KPPP Poltabes Samarinda.
(ken/ken)











































