Wajah Bang Obrin tampak kusut sekali. Tangan kanannya sesekali menggaruk-garuk rambutnya tanda kegelisahan hatinya semakin menjadi. Senyum ramah yang kerap menghiasi bibirnya lenyap tak berbekas.
Bang Obrin bukan pengusaha kaya yang sedang dirundung petaka karena harga sahamnya anjlok. Dia juga bukan caleg yang resah karena tidak mendapat jatah nomor jadi. Bang Obrin hanyalah pedagang bakso keliling yang biasa mangkal di depan pabrik Ligna, Jl Raya Tapos, Cimanggis, Depok.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Perburuan gas pun dilanjutkan Bang Obrin ke toko-toko lainnya, bahkan hingga jauh dari tempat tinggalnya. Tapi hasilnya tetap sama, nihil. Dengan langkah gontai, Bang Obrin pun kembali ke rumahnya sambil menenteng tabung elpiji ukuran 3 kg miliknya yang kosong. Hilang sudah peruntungannya hari ini.
"Boro-boro untung, rugi sih iya! Saya kan sudah belanja semua keperluan buat dagang, eh giliran mau berangkat gasnya abis. Semua bahan ini kan nggak mungkin buat besok," ungkap Obrin setengah bersungut-sungut.
Wajar bila Bang Obrin sangat kesal. Sedikitnya dia sudah mengeluarkan uang Rp 200 ribuย untuk berbelanja bahan dagangannya. Tapi semuanya hilang begitu saja akibat kelangkaan elpiji.
Nasib serupa nyaris dialami Dul, tukang mie dogdog. Dul juga hampir tidak bisa berdagang karena kehabisan gas elpiji. Namun dia beruntung masih bisa mendapatkan elpiji setelah berjuang seharian mencarinya.
"Saya beli Rp 20.000, padahal biasanya cuma Rp 14.000. Terpaksa saya beli dari pada tidak makan," ujar Dul dengan logat Madura yang sangat kental.
Bang Obrin dan Dul hanya contoh kecil dari keresahan masyarakat yang menjadi korban kelangkaan elpiji. Janji pemerintah soal indahnya peralihan penggunaan minyak tanah ke elpiji jauh panggang dari api. Minyak tanah tidak ada, kini elpiji pun susah didapat... (djo/nrl)











































