"Kita termasuk negara yang sangat disibukan oleh proses demokrasi elektoral
sehingga para pemilih didera keletihan politik. Kondisi ini akan membuat potensi konflik di 2009 bisa dihindari," ujar Pengamat politik Eep Saefulloh Fatah dalam media work shop Indonesia Exim Bank 'The Transformation Has Begun' di Hotel Salak, Bogor, Jawa Barat,Jumat (19/12/2008) malam.
Dalam rentang lima tahun, imbuh Eep, ada 503 pemilu di Indonesia yang terdiriĀ dari satu kali pemilihan presiden, 4 kali pemilu legislatif, pemilihan gubernur 32Ā kali, dan pemilihan bupati serta walikota 466 kali.
"Lebih dari 100 pemilu setiap tahun, lebih dari delapan pemilu setiap bulan danĀ dua pemilu setiap minggu sehingga seorang warga negara Indonesia bisa berpartisipasi dalam 10-11 pemilu selama lima tahun hidupnya," ungkapnya.
Banyaknya pemilu yang dilaksanakan di Indonesia, menurut Eep, tida dijalankanĀ secara efisien.
"Misalnya di Jawa Timur, pemilihan bupati, walikota dan gubernur tidak dilakukanĀ bersamaan sehingga pembuatan TPS, kertas suara, kotak suara danĀ keperluan pemilihanĀ dilakukan berulang-ulang. Inilah yang membuat demokrasi tidak efisien," tandasnya. (qom/ndr)











































