"BBM dinaikkan salah, diturunkan salah dan didiamkan juga salah. Ini nggak ada kaitan dengan Pilpres," kata Nuh di Departemen Komunikasi dan Informatika, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Senin (15/12/2008).
Sebab, menurut Nuh, apabila dikaitkan dengan pilpres maka Presiden SBY juga tidak akan berani menaikkan harga BBM 28 Mei lalu.
"Jadi sama sekali nggak konsekuen. Kalau dulu dinaikkan karena harga minyak dunia naik dan ketika harga minyak dunia turun malah nggak diturunkan," ujar Nuh.
Jika minyak naik lagi, lanjut dia, pengusaha yang pesimis bisa menggunakan hitung-hitungan premium Rp 6.000 dan solar Rp 5.500. Pemerintah sudah memberi garansi.
Dalam kesempatan yang sama, Dirjen Migas Departemen Energi dan Sumberdaya Mineral (ESDM), Evita Legowo, berdasarkan Peraturan Menteri nomor 38 tahun 2008, setiap bulan harga bahan bakar minyak akan dievaluasi.
Lalu bagaimana jika harga minyak dunia naik terus? "Pemerintah sudah menetapkan ceiling price. Jadi sementok-mentoknya harga premium Rp 6.000 dan sementok-mentoknya harga solar Rp 5.500, setidaknya untuk APBN 2009," papar dia.
Pemerintah menurunkan kembali harga bensin jenis premium dari Rp 5.500 menjadi Rp 5.000, atau turun Rp 500 per liter. (aan/iy)











































