"Perlu ada kesepakatan seberapa besar desibel pengeras suara yang diperbolehkan dalam demo, karena kalau mengatur besar kecilnya speaker sepertinya tidak mungkin," kata pakar komunikasi politik UI Effendi Ghazali kepada detikcom, Sabtu (13/12/2008).
Effendi mengatakan, demo di Indonesia memang sudah mulai melampaui batas. Dia pun setuju dengan sikap marah SBY tersebut. Hanya saja, Effendi ingin memberikan sedikit tips bagaimana sebaiknya seorang presiden marah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Effendi, sebaiknya gaya marah SBY diselingi dengan humor seperti, "Kalau negara kita nggak mau masuk ke dalam Guiness Book of Record sebagai satu-satunya negara yang rapat pemerintah dihentikan karena suara demo, sebaiknya dicari pemecahannya," paparnya memberi contoh.
Effendi juga menilai, menarik atau tidaknya sebuah unjuk rasa bukan berdasarkan besar kecil pengeras suara. Bisa saja lewat happening art. Namun jika unjuk rasa tanpa pengeras suara, akan menjadi terlihat aneh.
"Demo kalau nggak pakai pengeres suara kan kurang efektif," ujar Effendi.
Saat memimpin rapat di Istana, SBY marah karena terganggu oleh pengeras suara para demonstran yang sedang berunjuk rasa Jumat 12 Desember. SBY pun sempat menegur Kapolri Jenderal Bambang Hendarso Danuri.
(mok/djo)










































