UE Capai Kesepakatan Iklim, Greenpeace cs Pesimis

Laporan dari Brussel

UE Capai Kesepakatan Iklim, Greenpeace cs Pesimis

- detikNews
Jumat, 12 Des 2008 21:36 WIB
UE Capai Kesepakatan Iklim, Greenpeace cs Pesimis
Brussel - Para pemimpin negara-negara Uni Eropa mencapai kesepakatan secara aklamasi mengenai paket kebijakan untuk mengurangi drastis gas emisi karbondioksida (CO2).

Hal itu disampaikan Ketua Uni Eropa saat ini yang juga presiden Prancis Nicolas Sarkozy, seusai pertemuan puncak UE di Brussel, Jumat (12/12/2008).

Seperti diberitakan sebelumnya, Uni Eropa mencanangkan rencana untuk mengurangi emisi CO2 hingga 20% pada target 2020 atau kurang dari 12 tahun lagi. Ini merupakan rencana paling ambisius di suatu kawasan di muka bumi untuk membantu mengurangi pemanasan global dan ketergantungan pada minyak bumi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Bangsa Eropa kini bisa mengatakan kepada dunia, 'Kini saatnya giliran Anda'," ujar Sarkozy.

Nada pernyataan Sarkozy terkesan mengarah antara lain kepada Amerika Serikat (AS), salah satu negara yang 'kurang bersemangat' untuk mengurangi emisi CO2 dan bersama-sama menanggulangi pemanasan global.

Proses menuju kesepakatan tersebut semula berlangsung alot, sebab rencana mengurangi emisi CO2 secara langsung berdampak pada industri masing-masing negara anggota UE. Diusulkan misalnya bahwa industri-industri berat yang banyak menghasilkan CO2 harus membeli 'hak emisi CO2'.

Rencana tersebut melemah setelah dijegal antara lain oleh Jerman. Kanselir Angela Merkel keberatan karena industri negaranya akan terbebani biaya tinggi.

Namun kesepakatan aklamasi akhirnya dicapai yakni industri-industri pembangkit listrik harus membayar mahal untuk emisi CO2 yang dihasilkan mereka. Ini artinya penduduk UE mulai tahun depan harus membayar listrik lebih mahal lagi.

Beberapa negara baru UE, yang belum cukup makmur, meminta kekecualian, terutama Bulgaria dan Polandia. Di Polandia ada 30 juta manusia yang tergantung pada listrik dari pembangkit bertenaga batubara. "Jika mereka harus membayar sepenuhnya 'hak emisi CO2', maka harga listrik akan melonjak tajam. Secara sosial ini tidak bisa diterima," tegas Sarkozy.

Terlalu Lembek

Meskipun rencana iklim UE tersebut paling ambisius dibandingkan kawasan atau negara manapun, namun organisasi lingkungan WWF, Greenpeace dan Oxfam menilai kesepakatan UE tersebut terlalu lembek.

Dalam pernyataan bersama hari ini, mereka menyebut bahwa kompromi akhir yang dicapai masih menguntungkan industri. Juga tidak diatur mengenai sanksi untuk negara-negara UE yang tidak mencapai target.

Para pemimpin UE telah melanggar janji dan berbalik dari upaya seluruh dunia untuk menanggulangi perubahan iklim. Angela Merkel, Silvio Berlusconi, Donald Tusk dan Nicolas Sarkozy seharusnya malu. Mereka lebih memihak industri polutif daripada masa depan anak cucu, demikian Greenpeace cs.

Organisasi-organisasi lingkungan itu berharap agar Parlemen Eropa melakukan penyesuaian mendasar isi kesepakatan tersebut, jika rencana kebijakan iklim itu sudah diserahkan untuk dibahas. (es/es)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads