"Saya nggak mau ngomong dulu karena sampai saat ini warisan itu belum diserahterimakan. Nanti saja Januari sehabis serah terima," kata Siti saat dihubungi detikcom melalui ponselnya, Jumat (12/12/2008).
Pemilik nama lengkap Siti Suprihatin itu mengaku untuk mendapatkan harta warisan dari sang kiai tidaklah mudah. Dia, harus berpuasa beberapa hari.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain itu, Siti juga takut jika pemberitaan tentang dirinya menyebar, akan ada orang yang berniat jahat terhadap dirinya. "Nanti kalau alamat saya diketahui, saya takut ada orang jahat yang mengincar warisan itu. Padahal sampai sekarang kan warisannya belum diterima," lanjutnya.
Namun Siti berjanji, Januari 2009 nanti, dia akan membuka diri. "Nanti kalau warisan sudah ada, saya pasti mau berbicara terbuka," kata perempuan yang mengaku tinggal di Desa Sidaraja, Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat itu.
"Nanti saya akan ceritakan semua yang sebenarnya. Ceritanya panjang, nggak cukup satu hari selesai," lanjutnya sambil tertawa.
Sebelumnya diberitakan, Siti dikabarkan menerima warisan berupa rumah, showroom, super market dan uang miliaran dari seorang kiai kaya di Jember. Menurut salah satu kerabat Siti, sebut saja Lisa, kiai itu bernama Muhammad Ismail Jailani, pemilik pondok pesantren Al Ikhsan di Kecamatan Ambulu, Jember.
Namun setelah ditelusuri, pondok pesantren Al Ikhsan tersebut sudah tidak eksis lagi. Keluarga kiai yang dulu mengelola pesantren itu juga tidak diketahui keberadaannya.
Kepada detikcom, Siti sempat mengungkapkan, sang kiai telah meninggal dunia. Kini, penyerahan harta warisan itu diurus oleh istrinya.
"Tapi ini masih dirahasiakan. Dari pihak sana (kiai) juga belum boleh dibuka ke orang lain dulu," katanya. (ken/iy)










































