Berdasarkan informasi yang dihimpun detikcom, salat Id pengikut ulama kharismatik Syech Burhanuddin Ulakan tersebut dilaksanakan di sejumlah mesjid dan musala, di antaranya musala Nurul Yakin yang terletak di Komplek Pesantren Nurul Yakin, Kecamatan Tujuh Koto, Sungai Sariak, Padang Pariaman.
Seperti perayaan Idul Adha pada umumnya, pemotongan dan pembagian daging hewan qurban dilaksanakan usai salat Id.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ada sekitar seribu lebih jamaah Sattariyah di kota Padang. Penentuan masuknya Idul Adha ditentukan pemimpin Pondok Pesantren Madrasah Tarbiyah Islamiyah Batang Kabung, Koto Tangah, Padang," ujar Ustad Afriyono (30) usai memimpin salat Id di Mushala Darul Salam, Simpang Kalumpang, Koto Tangah Padang, Selasa (9/12/2008).
Perbedaan penetapan masuknya Idul Adha antara pengikut Sattariyah Kota Padang dengan pengikut di kabupaten Padang Pariaman dan kota Pariaman, menurut Afriyono, karena adanya perbedaan penetapan awal bulan antara hari Rabu dan Kamis.
"Sejak zaman guru kami Syech Haji Salif sekitar 1960-an, kami sudah menetapkan awal bulan pada Rabu, sedangkan di Ulakan sehari sesudahnya," kata Afriyono.
Dijelaskan, guru Sattariyah yang masuk ke Sumatera Barat berjumlah lima orang, yakni Syech Burhanuddin di Ulakan (Padang Pariaman), Syech Muhammad Nasir di Koto Tangah (Padang), Datuak Maruhum Panjang atau Tuan Kadi Padang Gantiang (Tanah Datar), Syech Buyuang Mudo (Pesisir Selatan), dan Syech Tarapang (Kubang Tigobaleh, Solok). Kelima guru tarekat Sattariyah tersebut sama-sama menimba ilmu dari tanah rencong, Aceh.
"Kami menetapkan masuknya Idul Adha dengan berpedoman pada hadist nabi yang menyebutkan, hitunglah harimu itu pada hari Rabu, Kamis, dan Ahad. Dengan demikian perbedaan itu adalah rahmat bukan sesuatu yang layak dipersoalkan," demikian ustad Afriyono. (yon/djo)











































