Mediasi Tempo-Aburizal, Dewan Pers Tawarkan 2 Solusi

Mediasi Tempo-Aburizal, Dewan Pers Tawarkan 2 Solusi

- detikNews
Selasa, 02 Des 2008 12:38 WIB
Mediasi Tempo-Aburizal, Dewan Pers Tawarkan 2 Solusi
Jakarta - Dewan Pers yang memediasi perseteruan Majalah Berita Mingguan (MBM) Tempo dan Aburizal Bakrie menawarkan dua solusi. Tempo pun menyerahkan proses pada Dewan Pers.

Solusi tersebut ditawarkan Dewan Pers ketika bertemu Pemimpin Redaksi MBM Tempo Toriq Hadad di kantor Dewan Pers, Gedung Jakarta Media Center, Jalan Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Selasa (2/12/2008).

"Dewan Pers memberi 2 tawaran menyangkut penyelesaian masalah ini. Yang pertama Dewan Pers akan memfasilitasi untuk mempertemukan pengadu dan teradu dalam mediasi untuk mencari jalan keluar secara profesional," ujar Wakil Ketua Dewan Pers Leo Batubara.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tawaran kedua, imbuh Leo, apabila mediasi ditolak, maka Dewan Pers akan mengeluarkan hasil pengamatan Dewan Pers dalam bentuk rekomendasi.

Sementara Ketua Dewan Pers Ichlasul Amal mengatakan jawaban Tempo diperlukan untuk menilai berita yang menjadi sumber pengaduan Aburizal Bakrie.

"Kita tidak menilai orang. Tetapi beritanya, apakah berita itu sudah sesuai dengan kode etik jurnalistik atau belum. Oleh karena itu, kita perlu jawaban majalah Tempo atas pengaduan udan Bakrie Brothers," kata Ichlasul.

Sementara Pimred MBM Tempo Toriq Hadad menyerahkan pernyataan kepada Dewan Pers. Tempo lalu memasrahkan proses selanjutnya kepada Dewan.

"Apakah akan bertemu atau tidak, prosesnya saya serahkan kepada Dewan Pers setelah bahan-bahan yang kita ajukan dikaji," kata Toriq.

Sangkal Tuduhan Ical

MBM Tempo dalam pernyatannya ke Dewan Pers menyangkal tuduhan Aburizal Bakrie. Sebelumnya Ical menilai Tempo menuduhnya menyalahgunakan jabatan dan intervensi dalam suspensi saham Bumi Resources di Bursa Efek Indonesia (BEI).

"Tulisan itu hanya untuk menyoroti kebijakan pemerintah. Sama sekali tidak ada, bagian yang menuduh Saudara Aburizal telah menyalahgunakan jabatannya untuk kepentingan bisnis dalam tulisan itu," ujar Toriq.

Mengenai angka '666' yang terdapat dalam cover, Toriq mengatakan cover itu dibuat dengan teknik kolase. Teknik yang meletakkan timbunan angka-angka yang berulang yang disusun menjadi wajah.

"Penggambarnya meletakkan di sana-sini angka-angka tersebut semata-mata untuk memenuhi kesesuaian bidang yang tersedia. Sama sekali tidak ada maksud menghina dengan memilih angka tertentu untuk diletakkan di tempat tertentu," imbuhnya.

"Kami mengajak semua pihak untuk tidak terhanyut dalam hal-hal yang berbau mistik dan takhayul," jelas Toriq. (nwk/asy)


Berita Terkait