Radio Slovakia merupakan radio nasional mirip RRI di Indonesia dan telah mengudara sejak 1926. RRI-nya Slovakia ini memiliki 5 saluran khusus, termasuk saluran internasional yang jangkauannya mendunia.
Rekaman dan konser tersebut merupakan kesempatan berharga untuk mempromosikan Indonesia secara luas di Slovakia. "Selama ini Radio Slovakia sangat selektif memberikan kesempatan kepada pihak luar untuk konser di studio-studio yang dimilikinya," Korfungsi Pensosbud Wanton Saragih kepada detikcom, 28/11/2008.
Â
Selain untuk rekaman yang diperdengarkan kepada publik Radio Slovakia, konser Duo Sudiarso juga disaksikan langsung oleh para pecinta musik klasik dari kalangan diplomatik, pejabat pemerintah, tokoh masyarakat dan swasta di Slovakia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mengawali pertunjukannya Duo Sudiarso, kolaborasi sang ibu Iravati Sudiarso dan puterinya Aisha Sudiarso, membawakan karya Mozart dan Anton Arensky, dilanjutkan komposisi ketiga Introduction-Rondo Capricciosso Opus 28 karya Camille Saint-Saens.
Selain komposisi klasik Eropa, Duo Sudiarso juga memainkan masterpiece karya komposer besar Indonesia, yakni Sriwijaya (Amir Pasaribu, 1915), Tembang Alit (Jaya Suprana, 1949) dan Sarinande Variation (Trisuci Kamal, 1935). Tiga komposisi tersebut mendapat apresiasi tinggi karena keunikan bernuansa etnik Indonesia.
Pada komposisi Tembang Alit, jari-jari Iravati sangat piawai menebarkan denting piano bernada riang, diperkaya dengan nuansa etnik Jawa dan Bali. Duo Sudiarso juga menuai aplaus panjang ketika memainkan Sarinande Variation yang memadukan nuansa Indonesia dan Barat secara berimbang.
Â
Standing ovation diberikan oleh para penonton di akhir penampilan ibu dan anak yang sangat menarik tersebut. Konser di Bratislava itu merupakan bagian akhir dari lawatan konser mereka ke tiga negara yakni Ceko, Hongaria, dan Slovakia.
Citra
KUAI KBRI Bratislava Firdauzie Dwiandika mengatakan, konser Duo Sudiarso itu dapat meningkatkan citra Indonesia di Slovakia, karena mampu secara menarik dan piawai menampilkan musik klasik yang familiar di kalangan masyarakat Eropa.
"Mereka berdua juga memperkaya warna promosi Indonesia yang selama ini gencar dilakukan dengan medium angklung, tari-tarian tradisional, gamelan, dan semacamnya," demikian Firdauzie.
(es/es)











































