belum juga turun tangan terkait penemuan tulang raksasa di Kabupaten Bekasi, Jawa Barat (Jabar). Komisi X DPR pun mendesak pemerintah untuk menindaklanjuti penemuan benda yang diduga fosil tersebut.
"Kami mendesak Depbudpar menindaklanjuti temuan itu, dan hendaknya jangan hanya fokus ke masalah pariwisata saja," kata Wakil Ketua Komisi X Anwar Arifin, saat dihubungi detikcom, Selasa, (25/11/2008).
Menurut Anwar, kurang responsifnya Depbudpar terhadap penemuan dugaan fosil, dikarenakan Depbudpar hanya menjadikan kebudayaan sebagai alat bagi
pariwisata. Bukan sebagai pengembangan ilmu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Anwar menjelaskan, kurang responsifnya Depbudpar juga disebabkan karena disatukannya bidang kebudayaan dengan pariwisata, dan bukan dengan
pendidikan.
"Yang berminat dengan itu (temuan tulang) kan orang-orang yang menekuni bidang itu (arkeologi) yang terkait dengan pendidikan," jelasnya.
Lebih jauh Anwar menjelaskan, minimnya anggaran juga menjadi penyebab kurang responsifnya Depbudpar untuk menyelidiki penemuan tulang belulang tersebut.
"Anggaran Depbudpar itu kecil, cuma Rp 1 triliun lebih sedikit. Itu pun dibagi antara kebudayaan dan pariwisata, paling kebudayaan cuma dapat sepertiganya," pungkasnya. (lrn/anw)










































