"Ini jenis padi hibrida. Benih aslinya impor dari China. Tapi yang dipanen Pak Presiden ini, yang di Sukabumi sudah diproduksi di dalam negeri," kata Dirjen Tanaman Pangan Sutarto Ali Muso saat dihubungi lewat telepon, Selasa (11/11/2008).
Dia menjelaskan padi ini dikembangkan PT SAS, anak perusahaan grup Artha Graha. Sementara berdasarkan jurnal Mentan Anton Apriyantono, padi itu merupakan hasil pola kemitraan TB Silalahi center dengan Kelompok Tani Saroha-Pemkab Tobasa.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bernas Prima ini, lanjut Sutarto memang memiliki keunggulan dari segi produktifitas, selain itu waktu tanam relatif pendek sekitar 105 hari, menghemat air, dan berpotensi menghasilkan 12 ton gabah per hektar.
"Ini varietas ungggul bermutu, dan sudah berkembang di Jawa Tengah, Jawa Timur dan beberapa tempat lainnya. Ya kalau sedikit produksinya petani tidak akan tertarik," tambahnya.
Namun, diakuinya padi ini juga memiliki beberapa kekurangan yaitu adaptasi dengan lingkungan. Misalnya cocok di Sukabumi belum tentu di Cianjur atau di tempat lain cocok.
"Maka perlu ada pendampingan. Tapi kita belum pernah dapat laporan ada yang gagal atau tidak," imbuhnya. (ndr/iy)











































