"PKS mencoba mengambil suara Golkar, loyalis-loyalis Orde Baru," analisis pengamat sosiologi politik dari UGM, Arie Sudjito, dalam perbincangan dengan detikcom, Senin (10/11/2008).
Menurut Arie, langkah PKS memunculkan simbol tokoh Orde Baru seperti Soeharto merupakan strategi meraup suara pemilih yang bosan dengan reformasi. Namun langkah ini justru kontraproduktif, karena PKS justru akan ditinggal oleh para pemilih yang pro reformasi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain itu, akademisi ini menilai PKS keliru mencantumkan Soeharto dalam iklan tersebut. Alasannya, Soeharto masih menjadi polemik bagi publik, terkait berbagai kasus dan skandal yang dibuatnya selama memerintah.
"Kalau tokoh yang lain tepat, karena mereka simbol perjuangan," ujarnya.
Secara komunikasi politik, iklan itu juga dinilai sebagai salah satu upaya untuk memodifikasi tokoh nasional untuk kepentingan kampanye. Menurut Arie, tidak terlihat adanya substansi yang jelas mengenai maksud iklan-iklan yang selama ini ditampilkan PKS.
"PKS semakin kelihatan pragmatis," pungkasnya.
(mad/nrl)










































