Sehingga, meski tidak dijadwalkan untuk mengunjungi Great Wall, kami tetap mencuri-curi waktu untuk bisa menginjakkan kaki di salah satu bangunan yang merupakan satu dari tujuh keajaiban dunia itu.
Dan akhirnya, waktu itu pun datang juga. Saat Presiden menggelar acara bilateral dengan beberapa negara sahabat yang bersifat tertutup, kami pun izin untuk diperbolehkan mampir ke Great Wall. Dengan satu syarat, pukul 15.00 waktu setempat kami harus sudah sampai di hotel tempat kami menginap, The Peninsula Hotel. Karena Presiden SBY akan menggelar jumpa pers.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Setelah dua jam perjalanan, rasa takjub langsung menyergap saat menyaksikan gedung tinggi yang panjangnya ribuan kilometer tersebut.
"Akhirnya kita bisa menginjakkan kaki juga di Tembok China ini," ujar salah seorang wartawan Indonesia penuh rasa haru.
Untuk bisa masuk di Tembok China, kita harus bantingan iuran, per anak dipungut 50 Yuan atau sekitar Rp 75 ribu. Biaya masuk sebenarnya hanya 45 Yuan.
Tak hanya kita yang takjub dengan bangunan kuno tersebut, ribuanΒ pengunjung dari se-antero dunia sepertinya juga tersihir dengan bangunan yang konon satu-satunya bangunan di dunia yang bisa dilihat dari bulan ini.
Tembok China merupakan benteng pertahanan saat Dinasti Yan, Zhao, dan Qin. Seperti halnya naga raksasa, Tembok Cina membentang menelusuri pegunungan, gurun, padang rumput yang membentang sepanjang 6.700 km dari timur ke barat China.
Tingginya 8 meter. Lebar bagian atasnya 5 meter, sedangkan lebar bagian bawahnya 8 meter.
Setiap 180-270 meter dibuat semacam menara pengintai. Tinggi menara pengintai tersebut 11-12 meter. Lebih dari 2 ribu tahun, bangunan tersebut hingga kini masih berdiri kokoh. Tembok ini juga merupakan tembok terpanjang yang pernah dibuat oleh manusia.
Untuk membuat tembok raksasa ini, diperlukan waktu ratusan tahun di zaman berbagai kaisar. Semula, diperkirakan Qin Shi-huang yang memulai pembangunan tembok itu, namun menurut penelitian dan catatan literatur sejarah, tembok itu telah dibuat sebelum Dinasti Qin berdiri, tepatnya dibangun pertama kali pada zaman negara-negara berperang.
Kaisar Qin Shi-huang meneruskan pembangunan dan pengokohan tembok yang telah dibangun sebelumnya. Di sekitar tembok raksasa tersebut, ada beberapa kuil yang berdiri kokoh di antara tembok yang membentang.
Sebuah bendungan dengan air yang berwarna biru kehijau-hijauan juga semakin menambah kecantikan tembok kebanggaan masyarakat China ini.
Momen yang sangat langka ini kita manfaatkan sebaik-baiknya untuk berfoto dan bernarsis ria di depan kamera. Jeprat! Jepret!
Sayangnya, kita hanya punya waktu setengah jam untuk naik menelusuri Tembok China, sehingga kita terpaksa tidak bisa berjalan sampai puncak.
Ternyata, tak sedikit warga negara Indonesia (WNI) yang juga rekreasi di Tembok China. Saat kami bergosip ria dengan menggunakan Bahasa Indonesia di antara ribuan pengunjung yang hadir, tiba-tiba ada salah satu pengunjung yang nyeletuk.
"Semangat Mas, naiknya," ujar pria yang ternyata berasal dari Semarang, Jawa Tengah ini.
"Halah, jauh-jauh ke China malah ketemu Cah Semarang," ujar salah seorang teman disambut tawa teman yang lain.
Dalam kebahagiaan bisa menginjakkan kaki di Tembok China, masih tersimpan rasa was-was di benak kami. Bisa nggak kita sampai di hotel pukul 15.00 untuk mengikuti jumpa pers Presiden?
Akhirnya, kita pun berhasil tiba di hotel, 30 menit sebelum jumpa pers. (anw/nwk)











































