Acara pameran yang diikuti 31 pelukis dari berbagai daerah tersebut digelar di Gedung Kesenian Suteja, Purwokerto, Jawa Tengah, Senin (20/10/2008). Soemanto hadir mengenakan baju batik berwarna merah dan didampingi 'pengasuhnya', yakni seorang pria bernama Supono.
Seperti layaknya pejabat tinggi saat membuka sebuah acara, dalam kesempatan itu Sumanto pun diberikan kesempatan memberikan sambutan. Namun namanya juga Sumanto, dia berbicara asal-asalan tanpa jelas juntrungannya alias tidak nyambung.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Usai memberikan sambutan, Sumanto lagi-lagi bergaya bak pejabat penting. Dia berkeliling melihat-lihat lukisan yang dipamerkan sambil memberikan komentar yang juga ngawur.
"Ini lukisan wayang. Lukisan ini patut kita contoh dalam kehidupan," tutur Sumanto sambil manggut-manggut di depan sebuah lukisan.
Ketua Panitia, Fatur, menyatakan pihaknya memang sengaja mengundang Sumanto untuk membuka pameran lukisan tersebut. Menurutnya, lukisan adalah sebuah karya seni yang memiliki multi tafsir. Setiap orang, termasuk Sumanto, bisa memberikan pendapatnya mengenai sebuah lukisan.
"Jadi terserah orang memberikan penafsiran apa tentang sebuah lukisan. Seperti Sumanto, dia punya penafsiran sendiri tentang sebuah lukisan," papar Fatur.
Sosok Sumanto pernah menggegerkan masyarakat Indonesia akibat perbuatan nyelenehnya beberapa tahun lalu. Bagaimana tidak, pria asal Purbalingga ini gemar menyantap bangkai manusia. Berdasarkan pengakuannya, setidaknya sudah 3 bangkai manusia yang dimakannya. Bangkai-bangkai itu digalinya sendiri dari kuburan di desa tempatnya tinggal.
Atas perbuatannya, Sumanto sempat dipenjara. Namun sejumlah pihak menyayangkan tindakan hukum tersebut. Sebab mereka meragukan kewarasan akal sehat pria yang hidup dalam kemiskinan terebut. (djo/djo)











































