Kejadian langka itu terjadi usai rapat kabinet terbatas di Kantor Presiden, Jakarta, Kamis (16/10/2008). Menko Polhukam Widodo AS, Menlu Hasan Wirajuda, Menkeu Sri Mulyani, dan Jaksa Agung Hendarman Supandji yang mengikuti rapat tidak bersedia memberi keterangan pada wartawan.
Ketiganya serempak meninggalkan Kantor Presiden dengan langkah cepat tanpa menghiraukan wartawan yang menunggu. Biasanya dalam situasi demikian, wartawan akan langsung mengejar nara sumber sasarannya masing-masing. Tapi tidak sore ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Melihat belasan wartawan terpaku di teras kantornya, SBY pun spontan menyapa.
"Sudah mendapat keterangan?" sapa presiden.
"Belum Pak," jawab para wartawan serempak.
"Lho? Kalau begitu sini-sini," panggil SBY dengan nada heran setelah sebelumnya menengok ke belakang mencari-cari juru bicaranya.
Tanggapan spontan SBY ini jelas saja membuat wartawan kaget. Tidak mau melepas kesempatan langka bisa lakukan wawancara doorstop dengan Kepala Negara, mereka bergegas berlari menghampiri SBY.
"Wah asyik. The real doorstop nih," ujar seorang juru kamera televisi swasta.
Layaknya wawancara doorstop, maka Presiden SBY pun langsung ditodong belasan 'moncong' tape recorder dan mike. Jarak antara wartawan dengan presiden hanya hitungan jengkal, bahkan kurang.
Melihat situasi demikian para anggota Paspampres yang mengawal SBY jadi kebingungan harus bertindak apa. Menurut prosedur pengamanan dan protokoler, wawancara doorstop tidak dimungkinkan karena sangat riskan dari sisi keamanan.
Dengan pertimbangan protokoler dan keamanan pula maka wawancara doorstop dengan SBY selama ini tidak sepenuhnya doorstop oleh wartawan. Tapi sebaliknya, wawancara langsung itu bisa terjadi atas permintaan dari Presiden SBY yang hendak menyampaikan sesuatu secara langsung dan tidak ada sesi tanya jawab.
Biasanya pihak Biro Pers Kepresidenan yang paling sibuk dengan 'doorstop' semacam itu. Mereka harus bermain akrobat menyiapkan peralatan pengeras suara dan memilihkan lokasi doorstop yang jauh dari kesan formal kenegaraan. Tak jarang mereka juga harus beradu argumentasi dengan tim protokoler hanya untuk menetapkan lokasi yang dianggap tepat itu.
(lh/sho)











































