"Kalau saya sih terserah pada sponsor yang rela mengeluarkan dananya untuk kegiatan ini. Kan sangat tergantung kemampuan para sponsor," ujar Ketua Umum Partai Gerindra Prof Dr Suhardi kepada detikcom, Kamis (9/10/2008) pukul 09.30 WIB.
Suhardi yang enggan menyebutkan anggaran untuk iklan di televisi menambahkan, pembuatan iklan tersebut mengandalkan sumber daya dari para kadernya, baik finansial atau nonfinansial.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"(Krisis) Ini justru mengingatkan pada iklan. Bahwa betul-betul harus ada kemandirian, jangan sampai terjebak pada beberapa oknum yang untung dari ketergantungan," kata dia.
Menurutnya, dana iklan yang besar juga harus diimbangi dengan sosialisasi dan kampanye di tingkat akar rumput. Iklan di media massa itu juga diimbangi dengan survei di masyarakat.
Menurut survei Gerindra, iklan di media massa memperoleh 65,4 persen potensi suara yang mengungguli partai baru yang ada. Suhardi juga mengandalkan dana dari para kader.
"Semua dana kita gunakan. Dari internal partai, caleg tidak kita mintai dana pendaftaran. Dana yang mereka punya untuk gerakkan grass root, mereka bisa gunakan dana yang ada untuk mereka sendiri di lapisan bawah," kata dia.
"Sepanjang efisien tidak masalah. Imbauan iklan tidak semata-mata untuk Gerindra, tapi juga untuk seluruh bangsa agar tidak terus menerus menjadi bangsa pemboros dan pengimpor," tandas Suhardi. (nwk/nrl)











































