"Tidak ada lagi segel dan peralatan pengawasan di fasilitas pemrosesan (pultonium)," kata juru bicara International Atomic Energy Agency (IAEA) Melissa Fleming dalam sebuah pertemuan di Wina, Austria, seperti dikutip Reuters, Rabu (24/9/2008).
Menurut Fleming, Korut berencana memulai kembali program nuklirnya itu dalam seminggu mendatang. Bersamaan dengan itu, pengawas dari IAEA tidak akan lagi diberi akses atas pabrik pemrosesan plutonium Yongbyon.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Para analis nuklir berpendapat bahwa Korut memerlukan setidaknya beberapa bulan untuk mengembalikan instalasi nuklirnya seperti semula setelah tahun lalu ditutup.
Bulan lalu, Korut sudah menyatakan berencana memulai kembali proyek Yongbyonnya karena marah dengan sikap Amerika Serikat yang tidak mau menghapus Korut dari daftar hitam terorisme. Bahkan di awal bulan September ini Korut telah membuat gerakan-gerakan permulaan kecil untuk memulai kembali pabrik nuklirnya.
AS sebenarnya berjanji menghapus Korut dari daftar teroris jika Korut mengijinkan para pengawas memeriksa klaimnya soal output senjata nuklirnya. Namun menurut para pengamat regional, Korut menghendaki mekanisme pemeriksaan yang lebih fleksibel.
Korut mengaku memiliki kemampuan persenjataan nuklir pertama kali pada tahun 2005. Pada tahun 2006 Korut melakukan uji coba senjata nuklirnya. (sho/sho)











































