Bergerilya di Jalan Rusak di Penjuru Sulawesi Selatan

Bergerilya di Jalan Rusak di Penjuru Sulawesi Selatan

- detikNews
Minggu, 14 Sep 2008 01:17 WIB
Masamba - Apa rasanya jika untuk berjalan ke pusat kota harus melewati jalur yang rusak. Padahal jaraknya tidak terlalu jauh. Inilah yang dialami oleh warga Desa Lantang Tallang.

Desa Lantang Tallang adalah sebuah desa yang terletak di Kecamatan Masamba, Kabupaten Luwu Utara, Sulawesi Selatan. Wilayah yang didiami oleh 117 Kepala Keluarga ini sebenarnya termasuk dekat jaraknya dengan ibukota kabupaten. Jika mulus, jarak sejauh 7 KM, dapat ditempuh dengan waktu 10 menit saja.

Namun dengan kondisi infrastruktur desa yang belum baik, hitungan matematika tersebut tidak berlaku. Bagi warga desa, untuk sekedar melihat jalanan aspal saja, waktu yang mereka habiskan bisa mencapai 30 menit.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Detikcom yang mengikuti rombongan Kementerian Percepatan Daerah Tertinggal dalam acara Safari Ramadhan lintas Sulawesi merasakan sendiri kondisi itu.

Bukan hal yang mudah bagi setiap sopir untuk menaklukan kondisi jalan menuju Desa Lantang Tallang. Kondisi jalanan yang dilalui adalah jalan bebatuan yang membuat kendaraan tidak bisa melaju dengan cepat.

Bahkan tidak jarang mobil harus berjalan dengan hati-hati jika tidak ingin terjebak masuk dalam lumpur. Masalahnya, selain bebatuan, jalanan berlumpur akan sering ditemui.

Jalan menuju desa tersebut hanya cukup untuk dilalui oleh satu mobil saja. Akan menjadi sulit jika bertemu dengan mobil yang datang dari arah berlawanan.

Ironisnya, Menteri PDT Lukman Edy harus melewati jalur yang demikian parah ini untuk dapat meresmikan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLMTH) di desa tersebut pada Jumat, 12 September 2008 lalu. Kelak dengan adanya pembangkit yang menggunakan potensi air sebagai sumber utamanya, warga Desa Lantang Tallang tidak lagi merasakan kegelapan ketika malam tiba.

Pembangkit dengan biaya 'hanya' Rp 692,5 juta ini akan mengeluarkan daya sebesar 18 KW. Yang menyedihkan, dengan harga relatif murah, perlu waktu yang lama bagi warga desa untuk dapat menikmati aliran listrik.

"Kalau sekarang baru ada, berarti sudah berapa lama kita menunggu? Padahal jarak kami dengan ibukota dekat, apa jadinya yang jauh," keluh Ary salah seorang warga Desa kepada detikcom. (mok/ndr)


Berita Terkait