Penghargaan tersebut diberikan oleh Mendiknas Bambang Sudibyo pada Peringatan Hari Aksara Internasional ke-43 di Art center, jalan Nusa Indah, Denpasar, Senin (8/9/2008).
Khofifah telah terlibat dalam pemberantasan buta aksara sejak tahun 2000, saat dirinya menjadi Ketua Muslimat, organisasi perempuan NU. Ia pun membangun kerjasama dengan MDGs (Millenium Development Goals). Saat itu, Khofifah berjuang membangkitkan kesetaraan gender dan pemberantasan buta aksara.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Program kita menjadi lebih sistematik," ujarnya.
Berbagai strategi juga diterapkan untuk memacu semangat para perempuan di Jatim agar terbebas dari buta aksara. Di antaranya, membuka taman bacaan masyarakat, melatih siswa menjadi pembawa acara, kelompok usaha bersama.
Khofifah berjuang memberantas buta aksara pada kaum perempuan, karena meyakini bahwa buta aksara adalah awal seorang perempuan menjadi korban kekerasan seperti KDRT.
"Dengan bebas dari buta aksara, perempuan menjadi lebih bermartabat, bisa tersenyum karena sudah merasa mandiri dan setara dengan orang lain," katanya.
Pada kesempatan ini, pemerintah juga memberikan penghargaan kepada gubernur, walikota, dan bupati, tokoh masyarakat, tutor, wartawan se-Indonesia yang berprestasi menyukseskan program pemberantasan buta aksara di daerahnya masing-masing.
(gds/djo)










































