Namun Kepala Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Yogyakarta, Dr Subowo, MS kepada wartawan di kantor Maguwoharjo, Depok, Sleman, Jumat (5/9/2008) meragukan kemampuan Super Toy. "Kalau jenisnya seperti Rajalele, bila mencapai 9 ton/hektar gabah kering pungut (GKP) itu hebat, apalagi varietas lokal. Sebab hanya mencapai 7 ton/hektar itu biasa, paling banyak 7,3 ton/hektar," kata Subowo.
Dia menyatakan keraguannya secara praktek bila pencapaian hasil panen Super Toy yang terus meningkat atau naik dari masa panen pertama hingga ketiga yang dikatakan bisa mencapai 15 hingga 20 ton/hektar. Sebab biasanya pada masa singgang atau masa panen berikutnya pasti akan menurun.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bowo mengatakan hasil 7 ton/hektar itu dengan catatan tidak ada hama wereng atau hewan serangga lain seperti walang sangit, kepik, hama penggerek batang padi atau dimakan burung. Kenyataannya di Grabag ,Purworejo atau di wilayah lain juga dimakan hama wereng dan serangga lain.
Menurut Bowo, penggunaan pupuk kimia untuk Super Toy juga lebih banyak dibanding jenis lainnya. Pupuk Urea diberikan 2 kali masing-masing 75 kg/ha, pupuk SP-36 sebanyak 3 kali masing-masing 75 kg/ha, pupuk KCL 3 kali masing-masing 75 kg/ha, pupuk ZA sebanyak 75 kg/ha dan NPK Mutiara sebanyak 3 kali masing-masing 75 kg/ha.
"Pemakaian pupuk di atas 100 kg untuk SP-36 dan KCL hingga 225 kg/ha itu sudah tidak signifikan dan tidak akan meningkatkan hasil," pungkas Bowo. (bgs/asy)











































