DetikNews
Jumat 22 Maret 2019, 15:29 WIB

BPN Ancam Tuntut Lembaga Survei, Konsepindo: Berbahaya bagi Demokrasi

Kanavino Ahmad Rizqo - detikNews
BPN Ancam Tuntut Lembaga Survei, Konsepindo: Berbahaya bagi Demokrasi Ilustrasi (Foto: Dok. Humas Polres Bogor)
Jakarta - Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno mengancam akan menuntut lembaga survei yang menyajikan hasil survei berbeda dengan hasil Pilpres 2019. Lembaga Survei Konsep Indonesia menilai pernyataan BPN tersebut mengancam iklim demokrasi di Indonesia.

"Ancaman itu juga berbahaya karena akan membunuh iklim ilmiah dalam demokrasi. Ancaman itu menyedihkan dan saya kira perlu diklarifikasi apakah ini akan berdampak pada ancaman fisik terhadap para surveyor di lapangan nantinya," kata Manajer Riset Lembaga Survei Konsep Indonesia, Syafraji, kepada wartawan, Jumat (22/3/2019).



Menurut Syafraji, lembaga survei yang perlu dihukum adalah mereka yang melanggar kode etik dan salah besar dalam quick count. Bahkan Syafraji menyebut capres-cawapres dan timnya layak dituntut jika memaksa lembaga survei mengubah hasil hitung cepat agar bisa mengklaim menang.

"Quick count kok bisa salah, pasti ada yang nggak benar itu. Bisa jadi lembaganya, bisa jadi yang memaksa mengubah hasilnya," pungkasnya.



Sebelumnya, jubir BPN Prabowo-Sandiaga, Andre Rosiade, mengatakan pihaknya akan mencatat lembaga-lembaga survei yang memenangkan pasangan Joko Widodo (Jokowi)-Ma'ruf Amin dengan selisih di atas 20 persen dalam hasil surveinya. BPN akan menuntut lembaga survei tersebut jika hasilnya tidak sama dalam Pilpres 2019.

"Kita catat seluruh lembaga survei yang bilang Pak Jokowi menang di atas 20 persen. Kalau nanti nggak sama di atas 20 persen, kita tuntut mereka," kata Andre Rosiade setelah menghadiri rilis survei Indo Barometer di Hotel Century Park, Senayan, Jakarta Pusat, Kamis (21/3).

"Karena menurut prediksi kami, yang insyaallah Pak Prabowo menang, tapi siapa pun yang menang akan seperti 2014 lalu, sangat tipis dan sangat ketat. Itu yang terjadi. Wartawan juga sikapi kepada lembaga survei yang suka error," imbuhnya.



Andre mencontohkan perolehan suara pasangan Sudirman Said dan Ida Fauziyah pada Pilgub Jawa Tengah yang melenceng jauh dari berbagai lembaga survei.

"Jadi LSI Denny JA itu di Pilkada Jawa Tengah itu error-nya 217 persen, Charta Politika error-nya 203 persen, Litbang Kompas error-nya 174 persen, Indikator error-nya 76 persen, Indo Barometer error-nya 75 persen, SMRC error-nya 80 persen. Jadi mereka sering error gitu lho. Dan mereka insyaallah akan error juga di Pilpres 2019 ini," ujar Andre.

Politikus Gerindra ini menganggap lembaga survei membangun narasi pihak yang menang dengan angka tebal. Ia lalu mempertanyakan cara pertanggungjawaban lembaga-lembaga survei yang hasilnya ternyata salah saat penghitungan suara sebenarnya.
(knv/tor)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed